Slogan “Petani Mesem” Dorong Percepatan Swasembada Pangan di Trenggalek

Ir.Djoko Soerono, Kadis Pertanian dan Pangan Kab. Trenggalek, Rabu, (28/2). (hamzah)

KANALINDONESIA.COM, TRENGGALEK: Kabupaten Trenggalek memiliki lahan pertanian sekitar 120 ribu hektar, namun yang 60 ribu hektar lahan tersebut dimiliki oleh Perhutani, demikian dijelaskan oleh Ir. Djoko Soerono, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek saat diwawancarai di kantornya, Rabu (28/2). Selanjutnya, dia menambahkan, dengan slogan “Petani Mesem” yang dicetuskannya sejak 2017 lalu, Trenggalek akan menggenjot hasil pertanian semaksimal mungkin untuk mendukung percepatan program swasembada pangan yang ditargetkan oleh Pemerintah.

“Slogan Petani Mesem adalah bahasa Jawa yang berarti “Petani Tersernyum”, bukan saja bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian (khususnya beras, jagung dan kedelai), namun lebih dari itu konotasinya untuk mengangkat harkat dan martabat sosial dan ekonomi kaum tani di Trenggalek, sehingga para petani bisa tersenyum bahagia,” ujar Djoko Soerono.

Untuk tahun 2018, Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek mensinergikan semua kegiatan dalam bentuk “Pertanian Terpadu”, di mana pelaksanaan program pertanian harus memberikan kontribusi juga untuk pertumbuhan berbagai sektor sosial ekonomi dan budaya, seperti pariwisata, edukasi, wabil khusus untuk bisnis pasca panen. Dengan edukasi tentang pertanian, diharapkan generasi muda Trenggalek minimal mengerti tentang pertanian dan selanjutnya mereka menyenangi, mencintai dunia pertanian dan kelak mau mendedikasikan dirinya sebagai professional/entrepeneur di bidang pertanian dan pangan.

Sesuai dengan petunjuk dari Wabup Mochammad Nur Arifin (sekarang Plt. Bupati Trenggalek/Red), pertanian terpadu harus dimotori oleh petani sendiri, mulai dari hulu sampai ke hilirnya, Djoko Soerono menambahkan, melalui kerja sama dengan berbagai pihak utamanya Perhutani, diharapkan program pertanian terpadu bisa diimplementasikan secepatnya. Adanya Koperasi Gapoktan yang secara de facto dikelola oleh petani, dengan badan hukum resmi sesuai peraturan perundangan, Wabup Mochammad Nur Arifin yang akrab disapa Gus Ipin menginstruksikan agar pasca panen bisa memberikan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat penggarap yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan).

Dalam kunjungannya ke pabrik produsen pupuk organik di Kecamatan Pogalan dan Pengolahan Cokelat di Kecamatan Karangan, beberapa waktu lalu, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) meyakini bahwa Trenggalek dalam waktu dekat akan tumbuh menjadi salah satu produsen pangan dan industri pedesaan. KEIN menegaskan, Industri pertanian di pedesaan Trenggalek akan menopang terwujudnya Desa Emas yang digagas oleh KEIN, demikian Djoko Soerono mengutip ucapan salah satu anggota KEIN Republik Indonesia, Aris Muftie.

Menanggapi issue kelangkaan pupuk bersubsidi, Djoko Soerono mengatakan bahwa hal ini sudah ditangani oleh Pemkab dan Perhutani yang menaungi masyarakat Desa Hutan (LMDH). Pupuk subsidi akan diglontorkan oleh Pemerintah sesuai dengan jumlah LDKK dan RDKK yang diajukan oleh Kelompok Tani. Petani yang berhak memperoleh pupuk bersubsidi adalah yang terdaftar dalam LDKK yang ada di Dinas Pertanian dan Perhutani, atau yang memiliki kartu tanda anggota kelompok pertanian.

Keterlibatan Petani dalam mewujudkan Swasembada pangan dioptimalkan dari hulu sampai ke hilir, lanjut Djoko Soerono memberikan contoh, pabrik pupuk organik yang ada di Pogalan.

“Pabrik ini nantinya sepenuhnya akan dikelola oleh Koperasi Gapoktan, dari-oleh-untuk petani. Sedangkan Pemerintah Daerah (Dinas Pertanian dan Pangan) hanya sebagai jembatan yang memfasilitasi. Sehingga dengan demikian kesejahteraan masyarakat khususnya petani, Insha Allah niscaya akan meningkat,” tegasnya.

Walaupun Trenggalek masih memiliki beberapa keterbatasan, khususnya menyangkut anggaran di mana APBN maupun APBD Kabupaten dan Propinsi yang tidak mampu mengcover keseluruhan kegiatan, namun daerah ini juga kaya dengan sumberdaya dan komoditas yang apabila digarap tentu bisa menutupi keterbatasan tersebut. Bekerja sama dengan UB (universitas Brawijaya Malang), Dinas Pertanian dan Pangan berhasil mengembangkan produksi nilam, serai wangi, dll. Bersamaan itu dengan berdirinya Taman Tekonologi Pertanian (TTP) pada tahun 2017, penyerapan Tekonologi Pertanian untuk sapi perah dan kopi dengan anggaran senilai Rp. 3,4 M tahun tahun 2017 dan tahun ini meningkat menjadi Rp. 4,3 M.

“Insha Allah akan dapat mendorong percepatan swasembada pangan di daerah ini. Penyerapan teknologi pertanian dipusatkan di Bendungan, karena Kecamatan ini masuk wilayah “Selingkar Wilis. Sedangkan produksi hasil kerjasama dengan UB akan dipasarkan melalui badan ekonomi syariah, ” ungkapnya.

Penggarapan produksi pupuk dan hasil pertanian, akan menggunakan model inti-plasma, yakni intinya ada dinas Pertanian dan plasmanya ada di masyarakat; tetapi semua itu harus sesuai dengan SOP, contohnya untuk kakao (cokelat) yang ada di Kecamatan Suruh seluas 30 hektar.

Menyinggung masalah ketersediaan pangan di Trenggalek, Djoko mengatakan, bahwa untuk stok pangan di Trenggalek masih surplus. Kendati Pemerintah Pusat mengimpor beras dari luar negeri.

“Impor beras itu adalah kebijakan Pemerintah untuk mendukung program Nasional, sedangkan untuk Trenggalek sendiri tidak terpengaruh. Sebab produksi padi di daerah ini lebih dari cukup untuk kebutuhan sendiri. Tahun 2017 kemarin ada 117 ton produksi beras, sementara kebutuhan kita hanya sekitar 80-an ton. Surplus beras sudah sejak 2014 dan setiap tahun terus meningkat, termasuk produksi pertanian seperti kedelai dan jagung ,” tandasnya.

Lahan pertanian untuk padi tahun 2017 sekitar 32 ribu hektar dengan Indeks Pertanaman (IP) antara 3 atau 2 kali/tahun. Namun sawah baku hanya sekitar 12.300 hektar. Pada musim hujan yang sepanjang tahun IP bisa mencapai 3, seperti tahun 2016 yang lalu, dengan luas lahan 36 ribu hektar.

“Alhamdulillah, sejak saya menjadi Kepala Dinas Pertanian lebih dari 10 tahun ini, kesejahteraan petani di Trenggalek terus meningkat. Sekarang tidak ada lagi petani yang membiarkan lahannya kosong tidak digarap. Untuk ini, saya juga sangat berterimakasih kepada petugas Penyuluh dan Menteri Pertanian,” pungkasnya.(hamzah)