Dokar, Bertahan Sampai Kapan

Salah satu Dokar yang melayani masyarakat di Pasar Blimbing Paciran Lamongan. Foto:omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Zaman terus berkembang. Berbagai fasilitas kehidupan semakin canggih. Begitu juga dengan sarana transportasi. Dari yang awalnya konvensional, beralih ke tenaga mesin. Seperti angkutan dokar. Jika dulu angkutan tersebut menjadi angkutan teristimewa, kini sudah tidak lagi diminati.

Angkutan dokar dengan tenaga kuda sudah ada sejak zaman kolonial. Di wilayah Pantai Utara Lamongan angkutan dokar itu tersebar mulai dari Paciran hingga Brondong. Beberapa tempat yang menjadi mangkal kendaraan ini biasanya terlihat di pasar tradisional atau tempat pelelangan ikan. Seperti yang ada di Pasar Blimbing. Sayang keberadaannya mulai punah. Angkutan dengan tenaga kuda itu sepi peminat.

Seperti yang dialami Musrikin (60), warga Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Dirinya mengaku penghasilnya sebagai penyedia angkutan dokar semakin sedikit.

“Dulu banyak mas. Yang naik dokar Jadi penghasilan saya juga banyak. Tapi sekarang sedikit, sudah kalah dengan becak motor,” katanya tanpa mau merinci jumlah rupiah yang didapatnya setiap hari.

Di Pasar Blimbing ini, menurut Kasan, saat ini ada 7 pengemudi dokar sepertinya. Mereka semua juga hanya bisa pasrah tidak lagi menjadi primadona masyarakat yang saat ini membutuhkan transportasi cepat agar tiba cepat sampai tujuan.

Menurutnya, selain tidak bisa cepat, salah satu penyebab minimnya peminat angkutan dokar karena sering dianggap mengotori lingkungan. Yakni kuda sebagai tenaganya sering mengeluarkan kotoran sembarangan.

“Sebenarnya tidak mengotori. Tapi bagaimana lagi peminatnya memang sudah jarang,” ungkap Musrikin yang sudah belasan tahun setia menjadi pengemudi dokar.

Meski demikian, persoalan itu sebenarnya bisa diatasi dengan memberikan pelindung sebagai wadah di bawah pantat kuda tersebut sehingga kotoran yang dikeluarkan kuda itu tidak langsung jatuh ke jalan.

Musrikin yang memiliki sendiri kuda dan dokar belum tahu sampai kapan ia akan setia dengan profesinya ini. Bahkan dirinya sampai saat ini belum berpikir untuk menjual kuda dan dokarnya untuk kemudian mencari pekerjaan lainnya.(omdik/fer)