Pak Mul-Bu Mit Paslon No. 1 Paling Tinggi Popularitas dan Elektabilitasnya

KANALINDONESIA.COM, BOJONEGORO; Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa timur,bakal mengikuti Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) yang rencananya digelar 27 Juni 2018 mendatang. Pesta demokrasi yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia itu, akan diikuti dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten, termasuk Kabupaten Bojonegoro.

Untuk Pilkada Bojonegoro 2018 ini, pihak KPU Bojonegoro sebagai Lembaga yang menyelenggarakan kegiatan tersebut, telah melaksanakan tahapan yakni, dengan dilaksanakannya pendaftaran bakal pasangan calon (paslon) bupati – wakil bupati Bojonegoro 2018, penetapan nomor urut paslon hingga penentuan jadwal kampanye.

Empat paslon berlomba-lomba mencari dan mencuri perhatian masyarakat dengan berbagai cara untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Sebelum pendaftaran paslon, mereka sudah membangun cara untuk membuka perhatian masyarakat Bojonegoro.

Lembaga sourvey The Republic Institute mengklaim Cawabup Mitroatin  popularitasnya tertinggi, dengan dikenal masyarakat Bojonegoro sebanyak 82,7%, disusul kemudian popularitas Soehadi Mulyono 73,2%,  Anna Muawanah 64,9% dan Mahfudoh Suyoto 59,1%. Sedangkan popularitas Budi Irawanto 32,1%, Kuswiyanto 25,3%, Basuki 14,8% dan Puji Dewanto 13,0%.

Adapun aspek elektabilitas pasangan calon bupati dan calon wakil bupati, pasangan Soehadi Mulyono – Mitroatin unggul atas pasangan lainnya, dimana pasangan tersebut mendapatkan suara sebesar 34,3%, urutan kedua pasangan Anna Muawanah-Budi Irawanto 23,8%, urutan ketiga pasangan Mahfudoh-Kuswiyanto, sedangkan pasangan Basuki- Pudji Dewanto hanya 6,3%, dan masih ada suara yang belum menentukan yaitu sebesar 15,3%.

Riset yang dilakukan oleh The Republic Institute ini   bersifat independen guna mengukur seberapa besar tingkat popularitas dan elektabilitas dari masing-masing aktor politik maupun tokoh yang layak dan pantas memimpin Kabupaten Bojonegoro lima tahun ke depan.

Jenis Penelitian yang dilakukan adalah survei, teknik pengambilan sampel adalah Multistage random Sampling dengan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 600 responden tersebar di 28 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro, kemudian sampel diturunkan ke tingkat Desa lalu diturunkan ke tingkat RW/RT, Rumah dan menentukan subjek penelitiannya. Proses pengambilan sampel (wawancara tatap muka) dilakukan pada tanggal 15-28 Pebruari 2018. Riset ini tingkat toleransinya atau margin of error sebesar 3,8% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Menurut Direktur The Republic Institute, Fatkhul Mujib, Kalau dilihat berdasarkan tren peningkatan suara dari dua kali survei yang dilakukan, yaitu survei pertama pada bulan November 2017 dan survei kedua bulan pebruari, maka suara pasangan Soehadi Mulyono-Mitroatin naik sangat signifikan, sedangkan suara Anna Muawanah-Budi Irawanto turun sedikit dan suara Mahfudoh-Kuswiyanto naik sedikit. Pada survei November 2017.

Pasangan Soehadi Mulyono-Mitroatin mendapatkan suara 28,3%, kemudian survei Februari 2018 naik menjadi 34,3%. Sedangkan pasangan Anna Muawanah-Budi Irawanto, Pada survei November 2017 mendapatkan suara 25,5%, kemudian survei Pebruari 2018 turun menjadi 23,8%. Untuk pasangan Mahfudoh-Kuswiyanto, Pada survei November 2017 mendapatkan suara 19,3,5%, kemudian survei Februari 2018 naik menjadi 20,3%.

Untuk dukungan Ormas, di Bojonegoro Ormas terbesar adalah NU, kemudian disusul Muhammadiyah, kedua ormas inilah yang menjadi basis massa yang seringkali menjadi arena perebutan suara para kandidat.

Massa NU tersebar ke semua kandidat dan yang terbesar mendukung pasangan no urut satu sebesar 36,4% kemudian mendukung pasangan no urut tiga sebesar 25,7% dan 16,8% mendukung pasangan no urut dua, dan hanya 7% yang mendukung pasangan no empat.

Adapun massa yang tergabung dengan muhammadiyah mayoritas mendukung pasangan no urut dua sebesar 48,2% dan masih terdapat jumlah besar yang belum menentukan, yaitu 19,6%. Adapun kelompok Gereja mayoritas mendukung pasangan Anna-Budi sebesar 80%, namun kuantitasnya sedikit, tidak sebanyak NU ataupun Muhammadiyah. Basis ormas ini masih mengalami dinamisasi dukungan, karena itu strategi kampanye yang sesuai akan mampu menggaet suara dari kelompok ini secara signifikan.

Distribusi pemilih berdasarkan basis partai, terjadi varian yang menarik, bahwa suara pemilih tidak berbanding lurus antara pemilih partai pengusung cabup dengan pilihan cabupnya. PDIP sebagai pengusung no urut 3 (Anna – Budi) ternyata massa pendukungnya lebih banyak memilih pasangan no urut satu (Mulyo Atine) demikian juga dengan Partai Gerindera yang mengusung pasangan no urut empat justru suaranya terdistribusi pada pasangan no urut satu dan dua, 50% nya masih belum memberikan dukungan kepada pasangan calon.

Idealnya memang partai pengusung dan pendukung calon mampu menggiring massa pemilihnya untuk ikut memilih sesuai dengan dukungan partainya, misalnya seperti Golkar dan Demokrat mayoritas pemilihnya mendukung pasangan nomor 1 meskipun jumlah dukungannya belum ideal, demikian juga PAN dan PKS yang mendukung pasangan no 2, dan massa PKB terhadap pasangan nomor 3.(omdik/fer)