Derita Empat Desa

 

KANALINDONESIA.COM,PONOROGO: Terdapat empat desa di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang penduduknya banyak menderita keterbelakangan metal.

Foto-foto yang ditampilakan pada foto bercerita ini telah lama mengemban derita. Kutukan seakan tidak mau pergi dari empat desa tersebut. Maria dan Marni adalah saudara kembar, Keduanya menderita keterbelakangan mental, Pelatihan yang diberikan salah satu lembaga yang peduli akan nasib mereka, keduanya kini telah banyak beraktivitas membuat keset kaki adalah slah satunya.

Kisah pilu berawal ketika terjadinya kegagalan panen yang terjadi di Kabupaten Ponorogo pada 1965-1967. Kecamatan Jabon, Jenongan dan Balong adalah kawasan yang paling terparah pada saat itu. Banyak penduduk dikala itu mengkonsumsi umbi-umbian dan singkong yang tidak mempunyai banyak kandung gizi bagi tubuh. Duduk beralas tanah dengan kaki terantai pada tiang rumah, Slamet terpasung. Dia tidak pernah beranjak dari tempat itu selama dua belas tahun lamanya.

Desa Karebet dan Sodoharjo Kecematan Jabon, Desa Karang Patihan dan Pandak kecamatan Balong serta Desa Paringan di Kecamatan Jenongan adalaha wilayah yang peduduknya benyak menderita keterbelakangan metal dan gangguan jiwa. Akibat kondisi tersebut, Stigma buruk melekat ke empat desa itu. Masyarakat di Kabupaten Pononorogo kerap meyebut kawasan itu sebagai “Kampung Idiot” atau “Kampung Gila”. Andika beserta ibunya duduk didepan pintu kala pewarta foto Kurniawan mengunjunginya. Lahir dengan kondisi keterbelakangan, Bocah berusia 15 tahun itu menderita kebisuan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo, Kondisi kesehatan mental yang diderita penduduk di sejumlah desa tersebut disebabkan oleh kandungan gaitan dan cooksey pada umbi-umbian yang mereka konsumsi. Disebutkan bahwa apa yang mereka konsumsi memiliki zat goittrogenik yang melumpuhkan sel pikiran. Satu dan Sati adalah dua saudara kandung yang mengalami keterbelakangan mental, Keduanya tinggal di Dusun Krebet, Jambon, Ponorogo.
Giyem yang menderita keterbelakangan mental berdiri di depan rumahnya di Desa Krebet, Ponorogo. Meski sulit berkomunikasi, Perempuan yang berusia  setengah abad itu sering membantu para tetangganya. Dia pun kerap mendapat upah dalam bentuk makanan. Giyem hidup tanpa orang tua dan keluarga.
Slamet adalah warga Desa Sidoharjo, Dia hidup berdua  dengan adiknya yang juga menderita gangguan jiwa. Tidak mampu berbuat apa_apa, Kesehariannya mereka dicukupi kebutuhan oleh pihak desa. Setiap minggu bantuan di distribusikan dalam bentuk makanan.
Di Desa Sidoharjo dan tiga desa lainya, Pemandangan warga yang dirantai atau dipasung menjadi hal yang biasa. Pemandangan ironis tersebut disebabkan karena para penduduk di desa itu lebih memilih merawat para penderita keterbelakangan mental di rumah mereka.
Lembaga yang peduli terhadap hak-hak manusia, Hukum Right Watch (HRW) merilis, ada ribuan warga Indonesia yang menderita penyakit mental terbelenggu hidupnya. Pada laporan setebal 743 halaman yang berjudul “Living in Hell” itu disebutkan bahwa kebanyakan orang yang menderita penyakit mental di Indonesia kerap dirantai atau dipasung di ruangan yang sempit dan tidak sehat.
Pemerintah Indonesia telah melarang pemasungan sejak 1977, Namun ketentuan tersebut tidak berjalan dengan baik. Tanpa akses pengobatan yang baik dan penyadaran kepada masyarakat, pemasungan terhadap penderita gangguan jiawa akan terus berlangsung. Boiman adalah yang beruntung. Dia yang menderita gangguan jiwa dapat berjalan kemanapun ia mau. Tampak ia duduk di tengah hutan jati di desa Sukoharjo, Ponorogo. Memiliki saudara kandung yang juga menderita gannnguan jiawa, kebutuhan hidup keduanya di bantu oleh aparat desa.
Legi, penderita keterbelangan mental duduk dihalaman rumahnya di Desa Krebet, Kecamatan Jambon. Di kampungnya ia yang paling menderita. Tiga saudara Legi Lainnya, Misratun, Sarmun dan Misiyem juga menderita keterbelakangan mental.Foto_KI/Kurniawan/18.