Ketua MUI Jombang : Puisi Sukmawati Bisa Sara Bisa Juga Tidak Sara

KH. Kholil Dahlan ketua MUI Jombang

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG :Puisi hasil karya Sukmawati, yang berjudul Ibu Indonesia yang dibacakannya dalam acara peragaan busana Anne Avantie pekan lalu, memang memancing kontroversi, bahkan Sukmawati sempat dilaporkan pada polisi oleh sejumlah pihak.

Namun menurut, tokoh ulama yang sekaligus ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, yakni KH. Kholil Dahlan, puisi Sukmawati, memang bisa dikatakan mengandung sara, namun juga bisa dikatakan tidak mengandung sara, tergantung dari sudut pandang mana seseorang menyikapi puisi tersebut.

“ Puisi hasil Ibu Sukmawati, kalau dilihat dari sisi sara bisa, ada unsure sara nya, kalau dilihat dari sisi tidak sara, juga bisa, karena itu produk hasil imajinasi atau dengan kata lain produk sastra, dalam bentuk puisi,” kata KH. Kholil pada sejumlah jurnalis, Jumat (6/4/2018).

Masih menurut KH. Kholil, kalimat yang terdapat dalam puisi Sukmawati, memang berbeda, dan bisa dikategorikan masuk ranah pidana, namun bisa juga tidak masuk ranah pidana, tinggal melihat siapa yang melihatnya.

“ Makanya, tergantung siapa yang melihat, darimana dilihatnya, dari sisi apa dampak yang ditimbulkannya, tapi secara umum, puisi itu menimbulkan rasa tidak nyaman, bagi umat yang meyakini tentang kebenaran islam,” ujar kyai yang juga pengasuh pondok joso tersebut.

Lanjut KH. Kholil, jika dilihat, dalam puisi Sukmawati terdapat kalimat perbandingan, seperti syariat islam dengan kidung, hal ini merupakan dua hal yang berbeda dan tidak dapat dibandingkan, karena keduanya memang tidak bisa dibandingkan.

“ Budaya itu produk manusia, dan syarat dengan bumi, sedangkan syariat islam itu produk keyakinan, dan produk dari zat yang maha suci,” paparnya.

Saat disinggung bagaimana menghadapi hal tersebut, KH Kholil menuturkan, seharusnya jika membuat produk budaya haruslah berhati-hati, karena masyarakat kita tidak hidup dalam dunia budaya, namun juga hidup dalam dunia keyakinan.

“ Ketika kalau dilingkungan budayawan, eksklusif yang hanya orang-orang sastra, hal ini tidak menjadi masalah, namun kalau dibawa ke luar, pada publik ini bisa menjadi masalah,” tegasnya.

Untuk itu KH, Kholil Dahlan, menghimbau pada masyarakat, kalau membuat kalimat-kalimat sastra haruslah berhati-hati. “ pertama kepada orang-orang didunia public, kalau membuat kata-kata hati-hati,” pungkasnya.(elo)