Warga Sumberwudi Geram Karena Tower BTS Belum Dibongkar

Tower BTS yang dikeluhkan warga Sumberwudi masih tegak berdiri walau warga sudah memprotesnya. Foto:omdik_kanalindonesia.com
Tower BTS yang dikeluhkan warga Sumberwudi masih tegak berdiri walau warga sudah memprotesnya. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Sejumlah warga Desa Sumberwudi geram, sebab tower Base Transceiver Station (BTS) di RT 2/ RW 2 Dusun/ Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng Lamongan, Jawa Timur itu hingga sekarang (Bulan April) masih berdiri tegak di tengah perkampungan warga. Keluh kesah warga sepertinya tak kunjung ada respon dari penanggung jawab tower seluler tersebut.

Berbagai cara sudah dilakukan mulai dari berkomunikasi dengan penanggung jawab tower tersebut sampai wadul ke Komisi A DPRD Lamongan. Bahkan Komisi A DPRD Lamongan sudah melayangkan surat dengan Nomor 005/453/413.050/2018 kepada Bupati Lamongan yang berisi tentang kesimpulan dan kesepakatan rapat kerja tentang perijinan tower.

Dalam surat tersebut berisi tentang beberapa hal hasil dari pertemuan yang dilakukan antara Komisi A DPRD Lamongan bersama Komunitas warga Desa Sumberwudi, Asisten tata praja, Bagian Hukum, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, Camat Karanggeneng dan PT. Protelindo.

Di sana disebutkan salah satu point krusial yakni penanggung jawab dari tower tersebut untuk segera meminda dari tengah-tengah pemukiman warga. Warga sangat mengeluh akan dampak dari tower tower tersebut kalau sudah ada hujan turun.

“Suratnya sudah jelas, pihak legislatif sudah memberikan surat kepada eksekutif mestinya sudah ada tindakan dilapangan,” kata Fathur Harun.

Lebih lanjut Fathur mengatakan, penolakan warga terhadap berdirinya tower itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Sebab merasakan imbas negatif karena jaraknya sangat dekat dengan pemukiman. ‘’Sudah ada 100 orang lebih warga yang menandatangani pernyataan menolak perpanjangan tower,’’ katanya ketika ditemui kanalindonesia.com, Rabu (11/4/2018).

Radiasi elektro magnetik yang ditimbulkan oleh tower tersebut adalah menyebabkan gangguan kesehatan sakit kepala, sulit tidur, dan konsentrasi terganggu. Leukimia, gangguan jaringan otak, kangker, tumor, hingga kerusakan DNA mengancam warga yang beraktivitas di dekat tower seluler.

‘’Itu menjadi dasar warga yang menginginkan tower seluler direlokasi jauh dari perkampungan,’’ teandasnya. Dia mengungkapkan, kesepakatan awal dengan pemilik lahan, operasional tower seluler hanya 10 tahun. Nyatanya setelah satu dekade tower masih beroperasi. Bahkan operator tower tersebut dialihkan dari PT XL Axiata ke PT Protelendo.

Ternyata perusahaan seluler tersebut belum mengantongi izin dari Pemkab Lamongan. Menurut dia, protes pernah dilakukan 20 Mei 2015. Namun warga masih bisa menahan kesabaran karena izin HO (gangguan) yang dimiliki hingga Desember tahun lalu. ‘’Izin HO-nya saat ini sudah habis, sehingga warga kembali memperjuangkan hak atas gangguan yang disebabkan tower tersebut,’’ tukasnya.(omdik/fer)