Kesedihan Sundijah, Ibu Slamet Santoso Korban Pembunuhan Di Jombang

Sundijah ibu angkat Almarhum Slamet Santoso korban pembunuhan di Jombang. Foto:omdik_kanalindonesia.com
Sundijah ibu angkat Almarhum Slamet Santoso korban pembunuhan di Jombang. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Orang tua atau ibu mana yang tak akan sedih, kecewa dan merasa kehilangan mendalam saat buah hati yang dicintainya pergi selamanya untuk meninggalkannya. Terlebih lagi, jika buah hati pergi untuk selama-lamanya setelah anaknya tersebut menjadi korban pembunuhan brutal serta sadis seperti yang dialami oleh Almarhum Slamet Santoso (36).

Seperti yang dikabarkan oleh Kanalindonesia.com Rabu (18/4/2018) bahwa telah terjadi peristiwa pembunuhan di Jombang yang dilakukan oleh kakak ipar kepada adik iparnya yang berprofesi sebagai satpam di Bulog Jombang tersebut. Dan dikabarkan pula bahwa korbannya adalah Slamet Santoso (36) yang terakhir beralamat di Perum Tunggorono RT 05/RW 06 Desa Tunggorono Kecamatan/Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Wartawan Kanalindonesia.com mencoba mendatangi rumah ibu korban yang berada di RT 02/RW 02 Desa Mertani Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Dan langsung ditemui oleh ibu korban yang bernama Sundijah (78).

Di rumah sederhana di pinggiran desa yang dekat dengan tanggul Bengawan Solo tersebut Slamet Santoso dibesarkan. Sundijah mulai cerita ketika pernikahannya dengan almarhum suaminya tidak dikarunia anak, mereka berdua mengasuh keponakan mereka untuk dijadikan anak asuh. Sundijah mengambil Slamet Santoso sejak bayi karena ibunya (adik Sundijah) meninggal ketika melahirkan Slamet Santoso.

“Dia anak baik mas, sejak kecil memang pendiam gak suka cerita apa-apa kalau ada masalah bahkan sebelum peristiwa Slamet juga pulang ke sini”, jelas Sundijah.

Memang sebelum kejadian sejak Sabtu (14/4/2018), Slamet pulang ke Desa Mertani Karanggeneng Lamongan. Selama empat hari di Mertani tidak ada yang aneh pada diri Slamet, bahkan pada hari Selasa (17/4/2018) dia juga sempat ngantarkan Sundijah untuk berjualan di pasar dan siangnya juga menjemput Sundijah pulang dari pasar.

“Jam 14.00 WIB, kakak iparnya yang tinggal di Mojokerto telepon katanya mau ke Jombang,” tambah Sundijah.

Sundijah juga menuturkan tidak ada pembicaraan serius dan seperti biasa saja karena Slamet Santoso menerima telepon tersebut layaknya orang yang tidak ada permasalahan. Dalam pembicaraan tersebut bilang kalau janjian di Jombang jam 18.00 WIB, dan Slamet Santoso pun meninggalkan Mertani sekitar jam 15.30 WIB menuju Jombang.

Tidak ada firasat apa-apa yang didapat Sundijah atas kepergian Slamet Santoso ke Jombang tersebut hingga sekitar pukul 22.00 WIB Heri Santoso menerima kabar dari Jombang kalau Slamet Santoso tewas dibunuh orang.

“Saya tidak banyak permintaan mas, saya minta keadilan, saya orang bodoh tp kalau anak saya dibunuh ya yang bunuh juga harus diberi hukuman setimpal,” sembari menyeka air matanya.(omdik/fer)