Melihat Optimisme Remaja Binaan di Balai Sosial Karya Mandiri

Kepala UPTD Balai Sosial Bina Remaja Karya Mandiri, Wahyu Hidayat membimbing siswa melakukan Prakter Belajar Kerja (PBK) di Balai Sosial Bina Remaja Karya Mandiri di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, NTB,
Kepala UPTD Balai Sosial Bina Remaja Karya Mandiri, Wahyu Hidayat membimbing siswa melakukan Prakter Belajar Kerja (PBK) di Balai Sosial Bina Remaja Karya Mandiri di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, NTB,

LOMBOK BARAT, KANALINDONESIA.COM: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Sosial memberikan perhatian terhadap remaja terlantar, putus sekolah, dan rentan akan permasalahan sosial. Salah satunya dengan menyediakan tempat binaan Balai Sosial Bina Remaja (BSBR) Karya Mandiri di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala BSBR Karya Mandiri, Wahyu Hidayat, mengatakan, remaja merupakan tulang punggung bagi kemajuan bangsa dan daerah. BSBR Karya Mandiri merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah Dinas Sosial Provinsi NTB dan memiliki luas sekitar 2,5 hektare.

Karya Mandiri mempunyai berbagai fasilitas untuk menunjang keterampilan para remaja, mulai dari peralatan perbengkelan, otomotif, tata boga, tata rias, dan tata busana.

“Untuk tahun ini, ada 65 remaja berusia antara 16 tahun hingga 21 tahun yang tinggal di sini,” ujar Wahyu di BSBR Karya Mandiri, Labuapi, Lombok Barat, NTB, Jumat (20/4).

Kata Wahyu, para remaja tinggal di sini selama 10 bulan, sedangkan dua bulan sisanya akan praktik di luar BSBR Karya Mandiri. Selama di sini, para remaja akan diberikan bimbingan fisik, mental, sosial, dan keterampilan. Selain itu, para remaja juga mendapatkan asupan makanan selama tiga kali sehari, dan makanan ringan dua kali sehari dengan menu yang bervariasi. Kondisi ini berbeda jauh bagi para remaja sebelum berada di sini.

“Memang membina remaja dengan latar belakang yang putus sekolah, terlantar, maupun rawan permasalahan sosial tentu tidak mudah, tapi di situlah menjadi tantangannya,” ucap Wahyu.

Agar tidak membosankan, BSBR Karya Mandiri, kata Wahyu, mencoba menciptakan suasana kekeluargaan agar para remaja bisa menikmati dan belajar dengan gembira. Selain pembinaan yang bersifat keterampilan, BSBR Karya Mandiri juga mengedepankan aspek spiritualitas. Hal ini penting agar para remaja memiliki karakter yang baik dan berintegritas ke depan.

“Agenda remaja binaan kita mulai dengan shalat shubuh berjamaah, sarapan bersama, apel pagi, dan shalat Dhuha yang diiringi pembekalan materi agama melalui Majelis Taklim,” ucap Wahyu.

Wahyu mengaku gembira melihat kesuksesan para remaja usai menempuh pembinaan di BSBR Karya Mandiri. Kata Wahyu, 85 persen dari remaja binaan BSBR Karya Mandiri dapat dikatakan berhasil lantaran mampu diterima kerja usai menjalani praktik magang. Wahyu menceritakan, aspek spiritualitas yang ditekankan mampu mengantarkan para remaja BSBR Karya Mandiri menjadi pribadi yang memiliki karakter penuh kejujuran.

Wahyu mencontohkan, seorang remaja binaan BSBR Karya Mandiri yang sedang menjalani praktik magang di bengkel menemukan uang Rp 1.000 dan langsung ia berikan ke pemilik bengkel.

“Karena dinilai jujur, si remaja ini langsung dipekerjakan si pemilik bengkel tersebut. Ini yang selalu kita tekankan agar keterampilan dengan relijiusitas harus berjalan seiring bersama,” kisah Wahyu.

Menurut Wahyu, remaja memiliki peran penting dalam pembangunan dan kemajuan NTB yang sedang gencar mengembangkan sektor pariwisata. Wahyu berharap, para remaja juga bisa menempati sektor lapangan kerja di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika.

Seorang remaja binaan asal asal Sakra, Lombok Timur, Alan (19), mengaku senang bisa berada di BSBR Karya Mandiri. Meski awalnya mengaku bingung dan ragu, Alan pada akhirnya mendapat banyak pengalaman selama di sini. Alan sendiri berkeinginan melanjutkan pendidikannya di universitas usai lulus SMK. Namun, kendala perekonomian keluarga menjadi kendala bagi Alan untuk kuliah. Alan yang belum memiliki pekerjaan kemudian diminta bibinya untuk masuk di BSBR Karya Mandiri dan menimba ilmu di sana.

“Awalnya memang sangat canggung karena tidak kenal sama sekali, apalagi beda-beda suku dan bahasa, tapi lama kelamaan malah sudah seperti saudara dan keluarga sendiri,” kata Alan.

Selain Alan, ada Muhammad Ridwan yang juga menjadi remaja binaan BSBR Karya Mandiri. Ridwan (20) yang berasal dari Kabupaten Sumbawa mengungkapkan kekhawatiran yang sama saat baru pertama kali berada di BSBR Karya Mandiri.

“Senang di sini bisa dapat teman dan juga pelajaran yang banyak. Semoga menjadi bekal untuk bekerja ke depannnya,” ungkap Ridwan.(dan)