Penyimpang dan Penyerunya

Oleh : Subadianto, Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

Dalam setiap jalan yang menyimpang itu ada aktivisnya yang menyeru manusia mengikuti jalan yang lurus, jalan kebenaran. Mereka ini proaktif. Punya posko untuk berjaga. Tugasnya selalu mengajak manusia supaya tidak menyimpang. Allah berikan konsep agar kita mampu bertahan terhadap godaan untuk mengikuti jalan-jalan menyimpang tersebut; Tawashau bil haq (Agar selalu menjaga eksistensi di jalan yang benar),  Tawashau bish shabr (Agar saling meringankan beban dan mampu menanggung beban), Tawashau bil marhamah (Agar saling mencurahkan kasih sayang satu dengan yang lain).

Kondisi kita – baik individual maupun kolektif – selalu mengalami fluktuasi, naik turun. Saat sedang mengalami penurunan, para penyeru perlu sentuhan empati dari orang yang lain agar mampu bertahan. Saat kondisi kita sedang turun, merintih, lalu ia merasa tidak ada yang menolong, kita mudah tergoda untuk meninggalkan jalan yang lurus itu. Seseorang  itu punya malu dan harga diri. Mereka tidak mau meminta- minta dan selalu berusaha menahan diri. Maka kita yang harus sensitif untuk melihat kondisi mereka para penyeru kebaikan.

Salah satu yang menghancurkan para penyeru adalah mengagumi diri sendiri. Merasa paling baik, merasa paling hebat, merasa lebih dari siapapun. Jika sifat itu dimiliki oleh para penyeru kebaikan, akan menghancurkan dirinya sendiri. Yang menghancurkan para penyeru kebaikan lainnya adalah adanya pengaruh infiltrasi dari luar.