Perjuangan dan Friksinya

Oleh : Subadianto, Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

Perjuangan itu merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka yang melakukan kedzoliman mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi perjuangan, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus perjuangan. Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh pelaku kedzoliman adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam perjuangan, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan di perjuangan  melemah akibat terpecah belah.

Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam perjuangan adalah hilangnya kesetiaan antara anggota dan pimpinan perjuangan. Sebab bila anggota perjuangan sudah tidak memiliki sikap kesetiaan pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin perjuangan dapat eksis.

Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat kesetiaan kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang  yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan perjuangannya.