Ops Patuh Semeru 2018 Ditutup, Total Pelanggaran di Trenggalek 1.502

Petugas Satlantas Polres Trenggalek lakukan penindakan berupa tilang kepada pelanggar

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Pelaksanaan Operasi Patuh Semeru 2018 resmiyang digelar selama 14 dan di mulai 26 April hingga 9 Mei 2018 telah resmi ditutup. SelamaOps berlangsung, Satlantas Polres Trenggalek menindak 1.502 pelanggaran.

Menurut catatan Satlantas, jumlah ini naik 19 persen jika dibandingkan dengan Ops Patuh pada 2017. Dari angka pelanggaran tersebut, 89 persennya dilakukan oleh pengendara sepeda motor total sebanyak 1.335 orang.

Kemudian, disusul mobil barang sebanyak 100pelanggaran, mobil penumpang 65 dan bus sebanyak 2 kali. Sedangkan pada aspek profesi, pelanggar tertinggi masih didominasi oleh karyawan swasta sebanyak 800 orang dan pelajar yang mencapai 454 orang.

“ Dalam Ops Patuh Semeru 2018 ini, ada 7 item jenis pelanggaran yang menjadi prioritas penindakan. Diantaranya tidak memakai helm, melawan arus, main HP, dibawah umur, pengaruh alkohol, melebihi batas kecepatan dan tidak menggunakan savety belt,’’ ucap Kasatlantas AKP Rikcy Tri Dharma, Kamis (10/5/2018).

Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian kita bersama, dari hasil evaluasi ditemukan fakta bahwa pelanggaran terbanyak adalah pengemudi yang masih dibawah umur dengan total sebanyak 432 pelanggar.

“ Fakta ini membuktikan bahwa masih banyak orang tua yang memberikan ijin kepada anak-anaknya yang masih belia dan kondisi psikologis maupun emosional yang masih labil serta belum memiliki SIM. Faktor ini  lah yang kemudian menjadi salah satu faktor tingginya angka kecelakaan lalulintas,’’terangnya.

Situasi dan kondisi seperti ini, perlu adanya peran serta dan pengawasan dari orang tua, sekolah dan instansi terkait agar anak-anak atau generasi penerus bangsa kita tidak menjadi korban sia-sia akibat kecelakaan lalulintas.

Selama Ops berlangsung, lanjut AKP Ricky, selain tindakan tegas berupa tilang, pihaknya juga melakukan upaya-upaya pencegahan (preventif) berupa police goes to school, sosialisasi ke berbagai komunitas, penyebaran pamflet, pemasangan baliho serta menggelar diskusi dengan forum lalulintas Trenggalek, termasuk membentuk Tim Sipeka atau Polisi Pencegah Kecelakaan.

“Dalam operasi patuh semeru 2018 ini memang80 persennya berupa penindakan. Namun pola preemtif dan preventif juga tetap intens kita gelar. Jadi lebih komprehensif,’’tegasnya.

Ditambahkan, dengan berakhirnya operasi patuh semeru 2018, kami berharap mampu membawa dampak positif bagi masyarakat dan semakin tumbuhnya kesadaran akan pentingnya tertib berlalu lintas.

“ Tertib bukan saat ada petugas saja melainkan harus berangkat dari diri sendiri. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk keselamatan dan kenyamanan kita bersama,’’ pungkasnya. (sup/ham)