Indonesia Rumah Kita (3)

Oleh : Subadianto

Rasa Saling Memiliki, Rasa Kebersamaan, Rasa Saling Percaya  hanya akan bisa terwujud jika ada komunikasi tanpa hambatan. Jika ada hambatan komunikasi maka yang terjadi kesalahpahaman atau ketidak saling pengertian. Ketika komunikasi terhambat antar anak bangsa maka sesama antar anak bangsa akan saling curiga dan buruk sangka. Modal sosial pun akan sulit terbentuk di antara kita semua. Di dunia politik sebenarnya komunikasi itu terjalin. Namun demikian, komunikasi yang terjalin bersifat TRANSAKSIONAL. Sehingga hubungan yang terbentuk seringkali hubungan untung rugi dan tidak ada hubungan saling percaya. Misalnya, ketika seseorang ingin maju sebagai kepala daerah. Sang calon membangun komunikasi ke para konglomerat atau saudagar untuk mau membiayai dirinya maju dalam kontestasi politik tapi dengan jaminan ketika terpilih menjadi kepala daerah, maka sang kepala daerah yang terpilih berjanji akan melindungi dan memajukan kepentingan sang konglomerat tersebut. Komunikasi seperti itu transaksional bukan komunikasi substantive yang berdasarkan nilai-nilai dan agenda perjuangan. Kita harus ubah model komunikasi yang transaksional seperti ini dengan komunikasi yang mengedapankan nilai-nilai dan agenda perjuangan untuk kemaslahatan masyarakat yang lebih luas.

Akhir-akhir ini sedang gencar dikampanyekan tentang nilai-nilai Kebangsaan, Pancasila dan Kebhinekaan. Perlu dipahami  bersama bahwa  secara institusi telah dengan tegas menerima dan memperjuangkan seluruh konsensus kehidupan berbangsa dan bernegara. seluruh konsensus kehidupan berbangsa dan bernegara seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika itu semua sudah selesai. Tinggal bagaimana sebagai bangsa merealisasikan itu semua sebagaimana cita-cita bangsa yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 paragraf ke-4. Terkait kampanye Isu Kebhinekaan yang cukup masih disampaikan. Perlu kita luruskan disini

Kebhinekaan bukan untuk kita perjuangkan. Justru yang perlu kita perjuangkan adalah Persatuan dalam bingkai Kebhinekaan itu sendiri.  Mengapa persatuan yang perlu diperjuankan? Karena persatuan itu aprocess of becoming, merupakan suatu ikhtiar yang harus terus menerus diperjuangkan. Dengan begitu, kehidupan kita sebagai bangsa yang bhineka akan kuat dan kokoh.Terakhir pesan saya untuk anak-anak muda. Ada dua hal yang ingin saya titipkan. Pertama, percayalah dengan the power of small thing, the power of small good deed.Percaya dengan kekuatan hal-hal yang kecil, percaya dengan amal-amal kebaikan yang kecil. Dulu John Naisbit pernah meramalkan tentang Global Paradox. Dia mengatakan bahwa meskipun dunia semakin mengglobal atau terintegrasi justru semakin penting elemen-elemen terkecilnya. Jadi ketika sekarang hidup di zaman globalisasi justru yang semakin berperan penting adalah elemen-elemen terkecil dari globalisasi itu sendiri. Karena itu kita harus percaya bahwa amal-amal kebaikan yang kecil itu justru memiliki kekuatan dan dampak yang luar biasa.Yang kedua saya berharap anak-anak muda atau setiap orang yang berjiwa muda ini bisa menjadi pelopor-pelopor kebaikan di sektor mana pun anda semua bekerja.

Tumbuhkanlah dalam diri anda selalu menjadi pelopor berbuat baik meskipun anda sendiri melakukannya. Saya pernah diberi nasehat oleh guru ngaji saya, ”Kalau ada 1000 orang berbuat baik, maka aku ada di dalamnya. Kalau ada 100 orang berbuat baik, maka aku berada paling depan. Kalau ada 10 orang berbuat baik, akulah pemimpinnya. Dan jika hanya ada satu saja orang berbuat baik, maka itulah aku.” Mudah-mudahan jiwa-jiwa kepeloporan tertanam dalam diri kita. Indonesia tidak lagi membutuhkan orator-orator ulung, yang dibutuhkan sekarang adalah para pelopor kebaikan di setiap sektor kehidupan yang istiqomah dan tulus berjuang.