Ini Lho, Penjelasan Kadispar NTB Soal Cekcok dengan Oknum Wartawan di Arena PKR

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Mohhamad Faozal (kanan)

MATARAM, KANALINDONESIA.COM: Kepala Dinas Pariwisata NTB, H Lalu Moh Faozal akhirnya angkat biacara terkait peristiwa percekcokan yang
sempat terjadi antara dirinya dengan oknum wartawan sebuah media massa online nasional, HB, di ajang Pesona Khazanah Ramadhan (PKR) 2018.

Pasalnya, Faozal menilai, peristiwa percekcokan itu sudah mulai
melebar kemana-mana bahkan cenderung bermuatan fitnah dan pencemaran nama baiknya secara pribadi.

“Memang sempat terjadi cekcok, dan saya pikir masalahnya sudah selesai
lah. Tapi kemudian ini menjadi masalah ketika ini dibesar-besarkan,
bukan lagi ke masalah cekcok itu, sudah bukan itu lagi substansinya.
Tapi sudah mulai muncul dugaan fitnah kepada saya,” kata Faozal,
saat menggelar jumpa pers terkait pelaksanaan PKR 2018, di kantor Dispar NTB, Mataram, Senin (21/5/2018) kemarin.

Saat menggelar jumpa pers tersebut, Faozal didampingi Wakil Ketua Koperasi Assosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Indonesia (Amphuri), Budi Firmanyah.

Amphuri merupakan organisasi penyelenggara Umroh Haji Travel Fair di arena PKR 2018, dimana kasus percekcokan antara Kadispar dan oknum wartawan bermula.

Faozal menjelaskan, saat itu Jumat malam (18/5) usai seremoni pembukaan event PKR 2018 di kompleks Islamic Center NTB, HB mendatangi dirinya dan menanyakan soal media promosi Umroh Haji Lombok Travel Fair yang belum terpasang.

“Itu setelah acara pembukaan PKR, sudah larut malam. Tiba-tiba saya
dihampiri dan dia bilang Dispar harus tanggung jawab ini (soal media
promosi), ya saya tanya apa masalahnya? Kalau soal Travel Fair itu
bukan urusan kami karena pelaksananya ada Amphuri dan Republika, tapi karena dia ngotot ya saya bilang oke lah PKR ini gawenya Dispar, ya Dispar akan tanggungjawab,” katanya.

Namun, menurut Faozal, HB tetap mendesak bertanya dengan nada yang
tinggi, hingga akhirnya ia sempat mendekat dan menepuk bahu HB agar
tenang.

“Dan malam itu cekcok memang iya, tapi tidak ada sampai saya memukul.
Kalau saya sampai memukul pasti ada visum dong. Tidak benar lah itu,
dan saya tidak seperti itu. Sekarang begini, seandainya ada wartawan
bertanya pada saya dengan cara yang baik dan suka cita, tentu saya
jawab dengan baik dan suka cita juga. Tapi ini kan berbeda cara dia
bertanya sudah beda, ya anda bisa pikirkan dan menilai sendiri lah,”
kata Faozal.

Selain soal media promosi, papar Faozal, saat itu HB juga menanyakan
keluhan sejumlah peserta travel fair yang merasa rugi lantaran tidak
ada pengunjung yang masuk dan melihat stand mereka.

“Itu juga ditanyakan. Padahal kan semua tahu itu acara pembukaan
selesainya sekitar pukul 12 malam, jadi kan tidak memungkinkan kami
arahkan lagi tamu undangan meninjau arena Travel Fair. Kami pikir ya
besok sajalah kan masih banyak waktu,” tukasnya.

Lagipula, papar Faozal, Jumat malam itu belum semua peserta Travel
Fair hadir, karena sebagian lainnya masih dalam perjalanan ke Mataram.

Ia mengaku, tadinya berpikir bahwa cekcok Jumat malam itu tidak
berbuntut panjang. Sebab, saat itu HB juga sudah diajak berbicara baik
setelah emosi sama-sama mereda.

Masalah akhirnya berbuntut juga, setelah HB melaporkan kejadian
tersebut ke organisasi pers, AJI dan IJTI perwakilan NTB. Pada Sabtu
(19/5) lalu, AJI dan IJTI NTB merilis sikap organisasi menanggapi kasus
yang menimpa HB tersebut.

Meski baru menerima laporan sepihak dari HB, AJI dan IJTI menyarankan
kasus percekcokan itu agar diselesaikan dengan jalur mediasi. Selain menilai kejadian tersebut hanya dipicu kesalahpahaman, mediasi juga
menjadi jalan terbaik mengingat saat ini bulan Ramadhan.

Pernyataan sikap AJI dan IJTI yang dirilis terpisah itu, kemudian dikutip sejumlah media massa, dimana menurut Faozal, ruang dan porsi klarifikasi untuk dirinya tidak tersedia.

“Jadi soal pernyataan sikap organisasi pers itu, saya juga tidak dimintai klarifikasi. Jadi seolah saya sudah berada dalam posisi yang salah,” katanya.

Namun demikian Faozal mengaku sudah melupakan masalah ini, terutama terkait percekcokannya dengan HB. Klarifikasi melalui jumpa pers, Senin (21/5), menurut dia dilakukan agar masyarakat NTB bisa memahami duduk persoalan yang terjadi secara utuh dari kedua belah pihak.

“Saya pribadi ya sudahlah, kita saling memaafkan. Kalau memang saya
mau perpanjang ya bisa saja saya menempuh jalur hukum, karena
belakangan ini kan muncul berita-berita yang justru bukan pada
substansi masalah cekcok itu lagi,” tegasnya.

Hanya saja, Faozal mengaku tengah berkonsultasi dengan sejumlah
pengacara, terkait dugaan penyebaran fitnah dan pencemaran nama baik
yang belakangan mulai muncul dengan memanfaatkan peristiwa cekcok tersebut.