Tower Telepon Seluler Tak Berijin dan Membahayakan Warga, Satpol PP di Lamongan Lakukan Penyegelan

Satpol PP Lamongan ketika mengadakan penyegelan terhadap tower di Sumberwudi. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan bersikap tegas terkait usaha yang tidak berizin komplit. Satu per satu usaha yang disinyalir ilegal disegel.

Salah satunya menara telekomunikasi di Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng. Tower yang sempat dipermasalahkan ijinnya oleh warga tersebut akhirnya disegel korps penegak perda Rabu (23/5/2018).
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lamongan melalui Kabid. Perundang-undangan Sapari memastikan tower yang berdiri di milik salah satu warga RT. 02/RW. 02 Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng ini memiliki permasalahan pada hal ijin dari Badan Penanaman Modal dan Perijinan Kabupaten Lamongan terkait pembaruan.
Lebih lanjut Sapari menjelaskan bahwa Tower tersebut melanggar Perda Nomor 02 Tahun 2012 yang disalah satu pasal yang dilanggar adalah proses pengalihan kepemilikan yang tidak diikuti pemberitahuan (ijin) kepada Bupati Lamongan.
Pemilik awal Tower tersebut pada waktu mengajukan ijin pendirian bernama PT. Axiata namun informasi terakhir berganti menjadi PT. Pretelindo dan semua itu dilakukan dibawa tangan sehingga masyarakat geram.
“Ini merupakan tindakan tegas dari aparat Satuan Polisi Pamong Praja menanggapi permintaan warga, yang sudah bolak-balik mengajukan protes”, kata Sapari.
Penyegelan dilakukan dengan mematikan aliran listrik, membentangkan spanduk bertuliskan
“Tower Ini Bermasalah, Tidak Berizin.” Selain membentangkan spanduk, Satpol PP juga memasang kunci gembok di pintu pagar tower yang berada persis di tengah pemukiman warga.
Saat penyegelan, Juga turut hadir Anggota Komisi A DPRD Lamongan, Camat Karanggeneng, Anggota Polsek Karanggeneng, Anggota Koramil, Kepala Desa Sumberwudi serta puluhan warga.
“Tower ini tidak ada izinnya, utamanya izin dari lingkungan sekitar,” tutur perwakilan warga, Fathur Harun.
Padahal, beber Fathur, dampak tower selama ini sangat dirasakan warga. Salah satunya saat hujan deras yang disertai dengan petir. Menurut dia, jika ada petir, sejumlah rumah yang berada di radius tower merasakan adanya aliran listrik.
“Utamanya di tiang besi dan dinding, seperti ada setrumnya,” ujar Fathur lagi.
Ketua RT. 02/RW. 02, Atekan mengakui, aksi warga menyegel tower bersama itu atas dasar kepedulian mereka terhadap pemerintah. Karena tidak berizin, urai Atekan, tentu merugikan pemerintah karena tidak ada pendapatan yang masuk ke kas daerah.(omdik/fer)