Ladu, Jajanan Ramadhan Asli Prijekngablak Lamongan

Ali Ajib Anamsari, Kepala Desa Prijekngablak saat memarkan ladu hasil produksi warganya. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Di wilayah Lamongan, ladu hanya bisa ditemukan di Desa Prijekngablak, Kecamatan Karanggeneng. Rasanya manis dan gurih. Tekstur lembutnya begitu terasa saat digigit serta warna yang beraneka macam. Sekilas, jajan yang besarnya hanya sekitar satu genggaman anak kecil itu, bentuknya seperti kerupuk amplang asli Kalimantan Selatan.

“Dulu, jajanan ladu adalah sajian wajib bagi masyarakat Dusun Kandangan. Hampir setiap rumah selalu menyajikan ladu untuk hidangan tamu yang datang bersilaturahmi saat Hari Raya Idul Fitri,” kata Saminah (56), salah satu pembuat jajan ladu di Desa Prijekngablak, ketika ditemui Kanalindonesia.com, Selasa (22/5/2018).

Dia menjelaskan, dulu, sebagian besar nenek moyang masyarakat Prijekngablak mengerti dan tahu tata cara membuat ladu. Namun belakangan, keterampilan tersebut kurang dikuasai oleh anak-anak muda di desa tersebut.

Keterampilan membuat ladu kini mulai berkurang. Nenek  moyang masyarakat Prijekngablak memproduksi kue ladu sejak dulu. Dengan demikian, diprediksi, sudah puluhan tahun makanan itu dikonsumsi masyarakat.

Membuat jajan ladu tidak semudah membuat kue kering lainnya. Butuh waktu empat hari untuk memproses ladu dari masih berbentuk butiran beras ketan hingga menjadi jajanan yang siap dikonsumsi. ”Kalau zaman Mbah saya masih ada, beras yang khusus dibikin ladu masih menanam sendiri, namanya padi Jawa, jenis padi ketan terbaik. Sekarang sudah tidak ada yang menanam di kampung sini. Lahannya habis buat rumah,” ujar Saminah.

Oleh karena itu, dia menggantinya dengan beras ketan dengan kualitas terbaik. Kenapa perlu kualitas terbaik? Lantaran, jajanan ladu ini sangat sensitif terhadap bahan baku. ”Bahan bakunya hanya beras ketan dan gula, tapi kualitas ketan dan jumlah takaran gula sangat menentukan. Salah sedikit saja, ladu tidak akan jadi,” terang Saminah.

Pembuatan ladu membutuhkan waktu lama karena bahan bakunya –beras ketan– harus melalui beberapa proses sebelum diolah. ”Pertama, kualitas beras ketan harus yang paling baik, harus murni beras ketan yang tidak dioplos, kecampuran sedikit saja sudah tidak mau (bisa, Red),” jelas Saminah.

Beras tersebut kemudian direndam selama 24 jam sebelum ditanak menjadi di dalam dandang. ”Setelah ditanak, lalu dideplok (tumbuk) pakai alu, sampai halus dan kalis,” ujar Saminah. Alat yang digunakan pun masih berupa penumbuk tradisional. Saminah mengaku, dirinya sudah pernah mencoba gilingan dengan tenaga mesin.

Alhasil, ladu buatannya tidak jadi. Saat menumbuk inilah, Saminah bisa mengetahui apakah kualitas beras yang dipakai bagus atau tidak. ”Kalau berasnya bagus, adonan akan liat. Jika jelek, adonannya gampang putus. Nah, kalau sudah putus, ladunya tidak akan jadi,” imbuhnya.

Sambil ditumbuk, adonan tersebut juga ditambahkan gula dengan takaran khusus. Hanya saja, dia tidak mau menyebut takaran gula. Sebab, kata Saminah, itu adalah rahasia perusahaan sambil tertawa.

“Setelah itu, adonan dijemur di bawah terik matahari dan harus kering dalam sehari karena langsung digoreng dengan menggunakan pasir laut,” imbuhnya. Saminah biasanya menggunakan tripleks untuk menjemur adonan yang sudah diglender seperti adonan kerupuk sebelumnya.

”Selanjutnya, baru dipotong kotak-kotak ukuran 1 sentimeter, kemudian digoreng selama 10 menit,” ungkap wanita yang masih energik. Setelah dingin, ladu harus segera dibungkus supaya tidak melempem. Jika disimpan di tempat tertutup, ladu bisa tahan hingga enam bulan, tanpa berubah warna dan rasa.

Ali Ajib Anamsari, Kepala Desa Prijekngablak mengatakan masyarakatnya masih memegang tradisi leluhurnya untuk mempertahankan budaya membuat ladu ini. Kendala alat yang sering menjadi penghambat produksi ladu ini.

“Alat penumbuk, yang hanya mengandalkan lesung ini sering menjadi kendala karena memerlukan tenaga ekstra dan alatnya mulai langkah, ” pungkas Anamsari.(omdik/fer)