Perjuangan Seorang Ibu di Babat Lamongan, Menggugah Rasa Iba

Sumiah ketika ditemukan dengan anaknya, setelah hampir sebulan anaknya pergi dari rumah. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Kalau kita mendengar lagu “Ibu” yang biasa dinyanyikan oleh musisi legendaris Iwan Fals rasanya menggugah rasa, begitu beratnya seorang ibu berjuang untuk keluarga. Kisah yang disuarakan oleh Iwan Fals itu tampaknya ada di sekitar kita, tepatnya di wilayah Kecamatan Babat Lamongan.

Sumiah (51) adalah simbol perempuan sekaligus ibu yang luar biasa. Perempuan yang tinggal di Dusun Sambong Desa Bedahan Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tersebut harus banting tulang untuk kehidupan keluarganya. Sumiah harus mencukupi kebutuhan keluarganya seorang diri termasuk juga membesarkan anak perempuan satu-satunya.

Suami Sumiah hampir 18 tahun yang lalu pergi tanpa pamit meninggalkan tanggungjawabnya sebagai suami, bapak dan tentunya sebagai kepala keluarga yang mestinya sebagai tulang punggung keluarga. Sampai sekarang tak ada kabar beritanya.

Kehidupan Sumiah dilalui dengan segala kekurangan. Mengandalkan dari hasil menjadi buruh di Surabaya yang dia lakukan dengan cara pergi pulang tiap hari hanya cukup menyambung kehidupannya sesaat. Sumiah bekerja di Surabaya setiap hari berangkat dari Babat jam 04.00 WIB dan pulang jam 24.00 WIB. Dengan sabar dia lakukan walau kadangkala dia melangkah dengan berjingkat karena Sumiah saat ini terserang penyakit gula dengan beberapa luka di kakinya.

“Dulu ada sebidang tanah yang saya punya tapi itu saya jual untuk biaya oprasi persalinan anak saya. Sekarang saya tinggal dengan menumpang di rumah saudara,” terang Suminah.

Ada beberapa luka di kakinya yang kelihatannya mulai menghitam karena sudah mulai parah karena penyakit gulanya. Rasa sakit itu sering dia tahan saat dia harus naik turun kendaraan dan berjalan menuju Surabaya.

Lina (17) sang anak tercatat sebagai siswa di salah satu SMK swasta di wilayah Kecamatan Babat. Dia tergolong anak yang memiliki prestasi akademik yang bagus. Sebagai anak yang beranjak remaja, tekanan moral pun muncul. Kebutuhan sekolah yang mulai tidak terpenuhi karena faktor kekurangan ekonomi. Akhirnya dia memutuskan tidak sekolah.

Keputusan Lina meninggalkan sekolah tidak dibarengi dengan pemikiran dewasa sehingga dia pun meninggalkan rumah hampir sebulan dan bergaul dengan anak-anak punk di seputaran Kota Babat.
Suminah selaku orang tua pun mencari anaknya kesana kemari. Berkat bantuan dari beberapa relawan di Kota Wingko tersebut akhirnya Lina bisa ditemukan. Suminah berharap anaknya bisa dan mau kembali sekolah.

Sementara itu, Bripka Purnomo salah anggota Polisi yang bertugas di Polsek Babat yang turut serta dalam membantu Suminah ketika mencari Lina, dia dan anggota relawan di Babat akan berusaha untuk menindaklanjuti bantuan terutama berkomunikasi dengan lembaga pendidikan dimana Lina sekolah.(omdik/fer)