Janda Lamongan Beranak Lima Produksi Miras Digrebek Polisi

Pelaku bersama petugas ketika menunjukkan barang bukti pembuatan miras. Foto:omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Seorang Janda di Lamongan, Jawa Timur, digrebek Polisi karena kedapatan memproduksi miras di rumahnya. Hasil penggrebekan petugas menemukan ratusan botol miras jenis arak siap edar dan peralatan untuk produksi miras serta bahan baku miras.

Pelaku terpaksa memproduksi miras untuk memenuhi kebutuhan lima anaknya yang masih sekolah.

Jajaran petugas dari Polres Lamongan, Jawa Timur, Senin (28/5/2018) siang menggrebek sebuah rumah yang dijadikan untuk produksi miras jenis arak di Desa Sukolilo Kecamatan Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur.

Penggrebekan yang dipimpin oleh Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung tersebut, menemukan ratusan botol miras jenis arak yang siap edar. Serta ditemukan pula bahan-bahan untuk pembuat arak beserta peralatan untuk memproduksi miras.

Dalam penggerbekan itu, petugas menemukan 3 drum bahan cairan arak masing-masing berisi 200 liter arak dan alat produksi serta puluhan botol kemasan. Dalam sehari pelaku bisa memproduksi puluhan botol minuman oplosan. Hasilnya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

AKBP Feby DP Hutagalung menjelaskan, penggerbekan pabrik minuman keras oplosan ini, berawal dari informasi masyarakat.

“Pabrik pengoplos minuman keras jenis arak ini, sangat mengganggu warga karena baunya yang sangat menyengat sehingga menimbulkan kecurigaan warga,” tutur AKBP Feby DP Hutagalung.

Menurut Noer Hayati (39), pelaku pembuat miras, ia ditergiur dengan usaha produksi miras jenis arak ini karena omsetnya sangat tinggi dan cara pembuatannya sangat sederhana. Pelaku akhirnya nekat untuk memproduksi miras untuk kebutuhan lima anaknya yang masih sekolah.

Terbongkarnya produksi miras di Bulan Ramadhan ini, disaat warga sekitar mencium bauh menyengat. Karena penasaran warga akhirnya berusaha mencari tahu sumber bahu tersebut dari rumah janda beranak lima tersebut. Akhirnya warga melaporkan ke Polisi.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 137 ayat 1 Jounto pasal 77 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2018 tentang pangan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda 10 Milyar rupiah.(omdik/fer)