Anggota DPR RI Arteria Dahlan : Masjid Bukan Hanya Tempat Ibadah

JAKARTA,  KANALINDONESIA. COM: Anggota DPR RI Arteria Dahlan menilai masjid bukan hanya tempat ibadah saja, namun juga membantu negara dalam merespon masalah sosial.

“Dari perspektif kami, masjid merupakan tempat diskusi, melakukan kajian, ceramah dan dakwah dengan segala macam materi. Kita harus jujur banyak sekali permasalahan yang bisa diselesaikan lewat ulama ketika negara tidak bisa menyelesaikannya,’ ujar Arteria Dahlan kepada Kanalindonesia.com di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Ia menampik isu-isu masjid dijadikan tempat politisasi menjelang momen-momen pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden.

Anggota Komisi III DPR RI  ini mengungkapkan, rakyatumat memahami bahwa masjid juga bisa sebagai pusat pergerakan dan perjuangan selain sholat, sepanjang bukan untuk aktifitas-aktifitas ujaran kebencian, memecah-belah, atau menyerang kepada empat pilar kebhinekaan berbangsa, bahkan memfitnah dan memihak salah satu calon, dan sebagainya.

“Kita akan tolak apabila masjid dijadikan pusat perjuangan yang berorientasikan kepada kekuasaan semata. Masjid sebaiknya digunakan untuk melaksanakan pendidikan politik keislaman seperti bagaimana membangun politik yang beradab,” ungkap Arteria Dahlan yang juga pengacara dan politisi Partai PDI Perjuangan.

Ditambahkan oleh Letjen (purn) TNI Syarwan Hamid bahwa dirinya tidak setuju jika masjid dijadikan tempat untuk melakukan propaganda politik.

“Masjid hanya untuk pembangunan moral orang-orang yang cinta dan peduli tanah air,” ungkapnya,” kata pria yang pernah menjabat Mendagri di era Presiden BJ Habibie.

Dalam Kesempatan yang sama, Pengamat politik Islam UIN, Dr. Bakir Ihsan menuturkan bahwa dalam konteks hubungan agama dan politik, ada suatu relasi antagonis artinya disatu sisi masjid atau agama sebagai otoritas yang memiliki dimensi supranatural yang berkaitan dengan Tuhan tetapi di sisi lain negara punya otoritas yang sifatnya mengatur kehidupan sosial. Dalam hal ini jelas sangat berbeda dimana agama memiliki otoritas ritual, sementara negara atau politik lebih kepada legitimasi sehingga dua-duanya berada pada wilayah yang berbeda.

“Masjid tidak bisa diklaim milik golongan tertentu maupun untuk kepentingan kelompok tertentu. Oleh karena itu, saya setuju bahwa Masjid bukan untuk kampanye partai tertentu atau dukungan pada calon tertentu,” kata Bakir.

Sementara itu, Hj. Jorana Amiruddin, Wakil Sekjen Dewan Masjid Indonesia menjelaskan, sejak jaman Rasulullah hingga saat ini fungsi Masjid bukan hanya sekedar  untuk melaksanakan ibadah sholat saja tetapi ada yang sifatnya muamalah.

“Bicara politik di masjid itu sah-sah saja dalam konteks untuk pendidikan politik. Bahkan, Rasulullah sudah memberikan pedoman kepada Islam yang sangat jelas tentang bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin yang amanah dan jujur. Jadi, ketika bicara tentang kriteria seorang pemimpin islam atau seperti apa calon-calon yang akan kita pilih nanti, itu kan sah-sah saja,” tutur Jorana. @Rudi