Direktur eksekutif IndoBarometer : Dukungan Parpol Tak Berbanding Lurus Dengan Suara Parpol

Direktur eksekutif IndoBarometer

KANALINDONESIA.COM : Persoalannya jangan sampai terjadi dua kubu pengusung; yaitu PDIP, dan pengusung pertama, NasDem, Hanura, dan Golkar. Juga mengenai Timses-nya, apakah tetap Nusron Wahid (Golkar), atau dari PDIP? Untuk itu jangan sampai terjadi konflik parpol pengusung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot dalam menghadapi poros Cikeas (Demokrat, PKB, PPP, dan PAN), dan poros Sandiaga Uno – Mardani (Gerindra – PKS).

“Jadi, dalam Pilkada ini selain Ahok, masih ada poros Cikeas (SBY), dan Prabowo (Gerindra – PKS) yang tidak hadir ke Cikeas,” tegas Direktur eksekutif IndoBarometer Muhammad Qodari, .

Qodari menegaskan jika banyaknya dukungan parpol ke cagub – cawagub itu tidak selalu berbanding lurus dengan suara parpol.

Baca:  Begini Cara Membumikan Partai PERINDO di Bumi Menak Sopal Trenggalek

Sebab, parpol itu kondisinya ada tiga macam; parpol yang tergantung logistik, menunggu logistik, dan tidak tergantung logistik. Demikian pula pemilihnya.

“PKB misalnya, meski mendukung Yusril Ihza Mahendra – Saefullah, pemilihnya bisa jadi lebih banyak yang mendukung Ahok. Jadi, belum ada parpol yang solid kecuali PKS,” jelas Qodari.

Mengapa? Karena pemilih parpol yang setia kepada keputusan partainya hanya 20 % – 40 % di Indonesia ini. Semua tergantung kepada kandidat calon. Tidak sama dengan Amerika Serikat, yang selalu sama dengan jumlah pendukungnya dalam setiap Pilpres.

Sejauh itu kata Qodari, kalau modal sosial kandidat itu kuat; sudah dikenal, kinerja, dan perilakunya baik di masyarakat, prestasinya juga jelas, dan track record-nya bagus, maka modal finansialnya akan murah.

Baca:  Megawati Secara Aklamasi Terpilih Kembali Sebagai Ketum PDIP Periode 2019-2024

“Jadi, semua akan tergantung kepada kandidat dan finansial partai pendukung,” pungkasnya.