Sawah Kekeringan, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dapat Bantuan dari Pusat Rp 6,4 M

Petani padi di Kabupaten Bojonegoro kekurangan air untuk mengaliri sawahnya

KANALINDONESIA.COM : Untuk menunjang produktifitas pertanian di Bojonegor, pemerintah Pusat menggelontorkan anggaran sebesar Rp 6,4 miliar pada Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro. Anggaran tersebut untuk pembangunan jaringan irigasi tersier. Sistem penggunaan anggarannya berupa swakelola oleh kelompok tani (poktan). Namun meskipun digelontorkan anggaran yang cukup besar tetap saja masalah kekeringan menjadi keluhan petani di Bojonegoro.

Salah satunya dialami oleh Yudi petani asal Bojonegoro. Pihaknya mengeluh karena sawahnya tidak terairi, dikarenakan saluran air yang ada di embug kering.

“gak ada airnya di embug, jadi sawah saya kering, dan sulit untuk memulai menggarap sawah,” pungkasnya.(25/09/2016)

Baca:  Gowes, Ajak Masyarakat Perangi Narkoba

Ikwal Subagio selaku Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro menuturkan terkait rincian bantuan keuangan itu dialokasikan, sebanyak 71 poktan yang tersebar di 63 desa di Kabupaten Bojonegoro yang mendapatkan bantuan keuangan bersumber dari dana APBN tersebut.

“Untuk pembangunan jaringan irigasi tersier tersebut perencanaan dan pekerjaannya dikerjakan oleh poktan dengan mengunakan teknik vero dari semen,” paparnya.

Masih menurut Ikwal,” Masing-masing poktan mendapatkan bantuan dana dari anggaran tersebut sebesar Rp 80 juta hingga Rp 90 juta. Sedangkan pembangunan irigasi nantinya sepanjang 150 meter sampai 200 meter. Ikwal menambahkan pembangunan jaringan irigasi tersebut bisa meningkatkan luasan tanam dan meningkatkan indek pertanaman yang dulunya 2 kali tanam setelah adanya pembangunan jaringan irigasi tersier bisa hingga 3 kali tanam,” pungkasnya.

Baca:  Baksos SMKN 1 Sambeng Lamongan Dalam Melawan Covid-19

Sementara itu menurut Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras), Dinas Pengairan Kabupaten Bojonegoro, Retno Wulandari, pada tahun ini Pemkab Bojonegoro membangun 33 embung dari target 55 embung. Pembangunan embung ini menyebar, namun lebih banyak di wilayah sisir timur Bojonegoro, seperti Kecamatan Sugihwaras, Kepohbaru, Kedungadem, dan di sisir utara berada di Kecamatan Trucuk.

“Masing-masing kecamatan itu sudah ada lebih dari 10 embung. Pembangunan itu dilakukan di tanah kas desa dan tanah solo valey,” katanya.

Pembangunan embung itu dari dana APBD senilai Rp 2 miliar. Pengelolaannya nanti diserahkan langsung kepada pihak desa. Ada tiga jenis embung yang dibangun, yakni embung geomembran, embung pertanian, dan embung konservasi. Embung geomembran, dimanfaatkan untuk air baku masyarakat, yakni untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan embung pertanian untuk membantu pembasahan tanah pertanian di musim kemarau. Karena kapasitasnya kecil dan embung konservasi tujuannya untuk memperbesar resapan tanah.(reg)

Baca:  Pertumbuhan Apertemen