Liputan Grebeg Suro, Sejumlah Wartawan Diusir dan Tidak Boleh Masuk

Salah satu wartawan yang berdebat dengan panitia

KANALINDONESIA.COM : Pembukaan perayaan Grebeg Suro dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke XXIII yang membatasi para  jurnalis di Ponorogo yang hendak melakukan peliputan sangatlah disesalkan.

Tak hanya space yang sangat minim, bahkan sejumlah awak media yang menunjukan ID Card khusus yang disediakan oleh panitiapun tidak diperbolehkan masuk ke dalam lokasi acara.

Akibat perlakuan yang menimpa para pencari berita itupun berbuntut panjang. Sejumlah wartawan kasak kusuk akan memboikot dengan tidak akan melakukan peliputan pembukaan acara Grebeg Suro dan FNRP ke XXIII ini.

Puluhan wartawan yang berada di dalam lokasi dan sudah menyiapkan kamera maupun handycam akhirnya memasukan kembali peralatan yang biasa mereka pergunakan untuk peliputan dan memilih keluar pergi meninggalkan lokasi.

Baca:  Empat Belas Hari Tak Pulang, Nenek di Ponorogo ini Ditemukan Meninggal di Hutan

” Maaf mas, ini perintah dari atasan, iya mbak aku hargai tugas anda, tapi mestinya anda juga menghargai keputusan bersama saat press confrence kemarin,”mensitir ucapan Fajar, kontributor Metro Tv saat dirinya tidak diperbolehkan masuk lokasi, dan terpaksa harus pulang..

Lebih lanjut dikatakanya, “kalau dibilang terlambat sebenarnya aku gak terlambat. Aku datang lebih awal sebelum rombongan bupati datang. Sesuai kebutuhan visual tv, aku ambil gambar dari depan panggung dari sisi penonton kelas ekonomi. Pas bupati mulai tiba di panggung utama, aku cepat-cepat bergegas merapat lewat pintu belakang. Tapi katanya sudah gak bisa masuk karena terlambat,”tegasnya.

Sementara itu, Sony Misdananto, kontributor NET Tv juga mengalami hal yang tak berbeda, bahkan dirinya yang sudah berada di dalam lokasi dan hendak mengambil gambar terpaksa harus pergi dan membatalkan untuk shot video, dikarenakan salah satu panitia berusaha menyuruhnya pergi.

Baca:  Ketua PKK Jombang Mengakui, Plesir ke Jakarta Gunakan DD-APBD 2016 Miliaran Rupiah

“Yang kita sesalkan, buat apa kita diundang dikasih ID card, namun kenyataan dilapangan hanya disediakan tempat ukuran 1 x 3 meter dan hanya dari sudut pandang kanan dan kiri, apalagi itu sudah penuh dengan fotografer, yang kita tidak tahu peruntukanya,”terang Sony.

Diceritakanya,”ya pas ditempat yang disediakan panitia sudah penuh dengan fotografer, saya gak kebagian tempat kedepan, karena disitu saya melihat juga banyak fotografer dan video, setelah saya masuk, tiba-tiba dari belakang security menarik tas kamera saya diikuti dengan 2 panitia bertuliskan voulentir. Saya ditanya dari mana, saya jawab dari press, sambil menunjukan ID Card, kalau pers disana, “loh itu kok boleh” yang kemudian dijawabnya, “itu khusus dokumentasi pemkab”.padahal disitu banyak dan saya tau persis itu bukan dokumentasi humas pemkab, “loh disana penuh Pak saya hanya mau ambil gambar 5 menit saja, tetap tidak diijinkan, alasannya perintah dari atas tidak boleh, kalau gak boleh gimana gambar kita bisa bagus, ya tetap ambil dari sana sambil kedua tanganya ini mendorong saya keluar dari depan pojok sebelah panggung,”urainya.(AD)

Baca:  Kasus Korupsi DLH Magetan Jalan di Tempat