NTB Bebas Bawang Merah ‘Palsu’

Bawang merah bombai mini atau bawang merah bolo-bolo yang dijual di salah satu ritel modern beberapa waktu lalu. Kementan RI sudah melakukan blacklist pada 5 importir bawang bombai di Indonesia.

MATARAM, KANALINDONESIA: Keberadaan bawang merah ‘palsu’ atau bawang bombai mini yang diduga mirip bawang merah ditemukan beredar di sejumlah pasar di Indonesia. Hal ini dinilai merugikan sejumlah pihak, khususnya petani bawang merah lokal dan konsumen.

Namun hal ini dibantah Dinas Perdagangan NTB. Bawang merah ‘palsu’ ini tidak ditemukan beredar di pasar tradisional NTB.

“Kita langsung turun pengecekan tapi tidak ditemukan,” ujar kepala Dinas Perdagangan NTB hj Putu Selly Andayani, Senin (25/6/2018).

Baca:  Disdag NTB Imbau Pedagang dan Distributor Jaga Kestabilan Harga

Ia menuturkan, dalam video conference bersama kementerian, bawang merah ‘palsu’ memang beredar di pasar tradisional di pusat.

Kementerian Pertanian (Kementan) RI bahkan sudah melakukan blacklist terhadap 10 importir komoditi bawang. Yakni 5 importir bawang bombai dan 5 importir bawang putih. 5 importir bawang putih diblacklist akibat mempermainkan harga bawang putih.

“Disparitasnya tinggi sebesar 500 persen hingga 1.000 persen,” sambungnya.

Sementara importir bawang bombai diblacklist akibat menjadikan bawang bombai mini menjadi bawang merah. Mereka bisa meraup keuntungan hingga Rp 1,24 triliun sekali impor. Sementara jika 50 persen bawang bombai dipenetrasi ke pasar bawang merah lokal, mereka mendapatkan tambahan keuntungan sebesar Rp 455 miliar.

“Itu yang dijelaskan Kementan dalam video conference tadi,” ungkapnya.

Baca:  Angkutan Udara Sumbang Inflasi Terbesar di NTB

Ia melanjutkan, Mentan Andi Amran Sulaiman geram dengan ulah importir bawang bombai yang telah melakukan penipuan. Sebab selain merugikan petani, tindakan memalsukan bawang bombai mini menjadi bawang merah itu juga merugikan konsumen.

Harga bawang bombai mini dari negara asalnya India hanya sekitar Rp 2.500 per kilogram. Kemudian ditambah biaya-biaya pengiriman, clearance, dan lainnya, biaya pokok di Indonesia menjadi sekitar Rp 6.000 per kilogram.

Lalu di tingkat distributor, harganya menjadi sekitar Rp 10.000 per kilogram. Sementara harga di tingkat eceran sekitar Rp 14.000 per kilogram. Dengan demikian, ada keuntungan bawang bombai mini sebesar Rp 8.000 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah lokal di petani saat ini berkisar Rp 18.000 dan di pasar retail rata-rata sekitar Rp 25.000 per kilogram.

Baca:  Menpora Lakukan Kunjungan Ke Posko Gempa Penyangget

“Disparitas harga inilah yang dimanfaatkan oleh spekulan untuk meraup keuntungan. Dampaknya konsumen tertipu dan petani bawang merah dirugikan,” jelasnya.

Meski begitu, Selly menegaskan bawang bombai mini atau yang dikenal dengan sebutan bawang merah bolo-bolo tidak ada di NTB. Pihaknya bersama Satgas pangan Polda NTB sudah melakukan pengecekan langsung ke sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram. Terutama ke pasar induk Mandalika, namun hasilnya nihil.

“Tidak ada bawang merah ‘palsu’ di NTB,” tandasnya.(Idham)