Cuaca Ekstrim di Bulan Juli, Petani di Jombang Banyak yang Diuntungkan

Kordinator bagian pengendali hama tanaman dinas pertanian Provinsi Jatim, Sutami, saat ditemui sejumlah jurnalis di kantornya

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Kondisi cuaca ekstrim yang diperkirakan akan terjadi beberapa hari kedepan, di bulan Juli hingga Desember nanti, justru menguntungkan petani.

Pasalnya, peristiwa cuaca dingin ini, sudah menjadi hal yang wajar bagi para petani. Bahkan banyak petani yang akan menjadi untung dengan adanya fenomena ala mini.

“Peristiwa seperti ini sudah terjadi sejak dulu, bulan Juli, Agustus itu cuacanya pasti dingin. Itu nanti akan berpengaruh pada munculnya bunga Kopi, Mangga, sehingga dengan cuaca dingin ini banyak petani yang diuntungkan. Petani kopi, petani mangga semuanya untung,” kata kordinator bagian pengendali hama dinas pertanian provinsi Jawa Timur, Sutami, saat ditemui sejumlah jurnalis, Selasa (10/9/2018).

Masih menurut penjelasan Sutami, setiap tahun, peristiwa seperti ini menjadi hal wajar, karena adanya pergeseran Matahari, dari arah utara menuju ke selatan. Dan fenomena ini jutru banyak petani yang diuntungkan.

“Bulan Juli itu memang dingin, nanti pada bulan September, Oktober, hingga Desember, matahari itu bergeser ke arah selatan, dan cuaca sudah mulai normal kembali. Petani tembakau untung, petani mangga dan kopi juga untung,” paparnya.

Saat ditanya bagaimanakah nasib petani padi, disaat musim dingin seperti ini, apakah juga diuntungkan atau dirugikan, Sutami, menjelaskan memang dimusim cuaca seperti ini, petani padi kurang diuntungkan, tapi hal itu bukanlah masalah yang utama sebab untuk kebutuhan air para petani padi sudah tervasilitasi dengan adanya sumur pompa, dan lain sebagainya.

“Memang kalau padi cuaca seperti ini, kurang air, tapi kita juga ditunjang dengan sarana pompa air, terus sumur patek, sumur dangkal, sehingga petani harus berusaha mengeluarkan biaya untuk memompa untuk memenuhi kebutuhan airnya, sampai musim panen nanti,” terang Sutami.

Diperkirakan puncak cuaca ekstrim ini, lanjut Sutami, akan terjadi pada bulan Agustus. Namun hal ini tidak akan mempengaruhi, pemenuhan kebutuhan pangan, mengingat sudah rencana strategis untuk pola cocok tanam petani padi, yang disesuaikan dengan keadaan cuaca.

“Kalau puncak dingin, diperkirakan sampai Agustus, September akan normal kembali. Untuk kebutuhan pangan masih mencukupi, karena kita sudah ploting, tanah-tanah mana yang harus tanam padi dua kali, sampai tiga kali, kita sudah punya pemetaan,” ungkap Sutami.

Ketika ditanya sudah adakah laporan yang masuk dari petani padi, yang mengalami kekeringan, akibat dari cuaca ekstrim, Sutami mengaku bahwa selama ini belum ada, laporan yang masuk dari petugas lapangan, di seluruh kecamatan yang ada di Jombang.
“Untuk titik- titik pertanian di Jombang, hampir merata dua minggu ini belum turun hujan. Dan sampai saat ini belum ada laporan, yang masuk ke kami terkait adanya lahan pertanian yang kekurangan air,” katanya.

Imbuh Sutami, memang di musim cuaca seperti petani padi memang kurang beruntung, akan tetapi untuk hama padi, dimusim seperti ini, dipastikan tidak akan muncul, karena beku.

“Kalau hama justru dengan cuaca seperti ini, hama-hama yang berkembang dengan pesat malah tidak berkembang karena cuacanya terlalu dingin. Biasanya hama seperti wereng coklat itu dibutuhkan cuaca yang lembab. Sehingga perkembangan hama dibandingkan pada musim badai lalina sangatlah jauh. Dan kami belum menerima laporan terkait adanya hama yang menyerang lahan pertanian,” ujar Sutami.

Menghadapi musim dingin, seperti ini, petugas pertanian menghimbau pada petani agar pada musim tanam yang berlangsung untuk selalu waspada terhadap hama ulat daun.
“Kalau yang harus diwaspadai pada musim tanam kedelai, untuk waspada terhadap ulat daun. Meski begitu kita juga sudah melakukan antisipasi berupa sosialisasi, pengamatan, sehingga diharapkan nanti tidak ada ledakan hama ulat daun di Jombang,” tukas Sutami.(elo)