Mahasiswa UISI Produksi Biskuit untuk Diet Gluten Free

GRESIK, KANALINDONESIA. COM: Lima mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) membuat inovasi di bidang pagan yaitu biskuit untuk diet gluten free. Biskuit yang berbahan utama sorgum ini bisa dikonsumsi semua orang terutama yang sedang menjalani program diet gluten free.
Ide biskuit yang berlabel So_Crezz!! berawal dari panen sorgum yang melimpah di lahan kampus C UISI dan Lamongan.

“Selama ini sorgum hanya dimanfaatkan sebagai makanan burung,”ungkap Hans. Sorgum merupakan tanaman jenis gandum-ganduman yang banyak ditemui di Inondonesia.

Tim So_Crezz yang beranggotakan Yulia Nur Rohmawati, Ahmad Musonnif Dzulfikri, Eka Nur Fadilah , Anisah Firdausiah Oktarilivyana, dan Hans Febrianto Setyo berikir untuk menciptakan makanan yang lebih sehat dengan bahan sorgum. Apalagi sorgum memiliki karakteristik unik yaitu rendah gluten.

Biskuit sorgum yang dikemabangkan memimiliki varian rasa yaitu original, keju, coklat dan green tea. Biskuit ini bisa dikonsumsi semua orang terutama yang sedang menjalani program diet gluten free. Diet jenis ini biasanya dijalani oleh penderita caliac disease, autisme, dan sensitif terhadap gluten.

Camilan ini juga memenangkan program hibah RISTEKDIKTI di Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Kewirausahaan (PKMK). Perkembangan dari tim PKM-K sejauh ini adalah produk mereka sudah memiliki izin penjualan PIRT (Produk Industri Rumah Tangga) dan nantinya akan mengurus hak paten untuk brandnya.

Pemasaran secara langsung juga telah dilakukan dengan mengikuti beberapa acara yang ada di Gresik, langsung melalui teman, keluarga, dan secara online di instagram.

Sejauh ini mereka sudah hampir memasuki tahap akhir yaitu mendapatkan profit yang lebih tinggi dari jumlah pendanaan yang telah diberikan yang mana hal tersebut merupakan tujuan dari PKM-K.
Kedepannya, mereka berencana untuk melakukan kerja sama dengan DISPERINDAG di Lamongan, beberapa distributor di Surabaya, minimarket, KWSG (Koperasi Warga Semen Gresik), dan koperasi di sekolah-sekolah.

“Tinggal gencar bagaimana cara menjual yang lebih baik lagi, efektivitas penjualan dan profit yang lebih tinggi, dan respon dari pihak konsumen, apakah konsumen sudah puas, serta bagaimana agar konsumen dapat kembali membeli produk kami”, ungkap Hans Febrianto Setyo bagian pemasaran dari tim PKM-K ini.(ian)