Bumi Asih Jaya Yakin Mampu Bayar Klaim Pemegang Polis 

KANALINDONESIA.COM : Pemilik Perusahaan Asuransi PT Bumi Asih Jaya (BAJ), Rudi Sinaga menghimbau kepada para pemegang polisnya untuk tetap tenang terkait izin usahanya telah dicabut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rudi mengatakan, pihaknya telah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Mahkamah Agung (MA) terhadap permohonan pailit yang diajukan oleh OJK.

“Kepada seluruh pemegang polis PT BAJ agar tetap sabar menunggu proses hukum dan juga pihak terkait terutama kurator agar menghormati upaya PK ini,” ujar Rudi saat jumpa pers di kantornya, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (30/9).

Kuasa hukum PT BAJ, Ulhaq Andyaksa menegaskan, bahwa perusahaan asuransi yang berdiri sejak 1967 itu merasa dianaktirikan oleh OJK.

Sebab, hanya karena laporan beberapa pemegang polis OJK mengajukan pailit akan perusahaannya.

“Ini telah menciderai pengertian pertanggungan asuransi. Sebab, tidak ada satu pun aturan yang menyatakan bahwa klaim asuransi itu adalah hutang,” kata Ulhaq.

Baca:  Usaha Tikar Lipat Lamongan Tak Lekang Oleh Zaman

Ulhaq menyebutkan, berdasarkan Pasal 1 angkat 1 UU nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian bahwa pertanggungan asuransi itu adalah perjanjian asuradur dengan pemegang polis untuk penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk memberikan penggantian atas terjadi peristiwa tertentu.

“Jadi cukup jelas bahwa PT BAJ tidak pernah mempunyai utang kepada pemegang polis,” bebernya.

Ulhaq juga menjelaskan, apa yang dilakukan OJK adalah prematur. Sebab, berdasarkan aturan Pasal 29 ayat 3 UU nomor 21 tahun 2011 tentang OJK. Lembaga tersebut harus terlebih dahulu memfasilitasi penyelesaian pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku lembaga jasa keuangan.

“Namun, hal itu tidak pernah dilakukan. Bahkan dalam UU yang sama di Pasal 54 bila tidak dapat difasilitasi maka sengketa itu dapat melalui Badan Mediasi Arbitrasi Indonesia (BMAI),” tuturnya.

Baca:  Sengketa Pilpres 2019, Jadi Sorotan Khusus Karang Taruna Sidoarjo

Rudi juga menegaskan, agar pihak OJK dapat memberikan izin kembali usaha mereka yang telah dicabut selama lima tahun.

“Padahal, dalam setahun kami dapat mengumpul omset senilai 1 triliun lebih. Namun, karena ditutup maka kerugian yang kami alami lebih dari 5 triliun,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, bahwa pihaknya telah mendapatkan  investornya yang siap menanamkan setoran modal dasar dari Rp30 miliar menjadi Rp400 miliar. “Kemudian menyetujui modal setor perseroan dari Rp7.891.219.000 menjadi Rp100 miliar,” tegasnya.

Dan hal ini sudah mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan HAM sesuai keputusan nomor: AHU-0004651.AH.01.02. Tahun 2016 yang dikeluarkan pada 10 Maret 2016.

Seperti diketahui, 28 Agustus 2015 Mahkamah Agung mengabulkan permohonan pailit yang diajukan OJK atas PT BAJ.

Baca:  Melalui Efisiensi, Laba Bersih SIG Semester I Tumbuh 26,3%

OJK pun memilih Raymond Bonggard Pardede, Gindo Hutahaean, dan Lukman Sembada sebagai kurator Bumi Asih Jaya.

Dalam pengumumannya, kurator Raymond cs memanggil kreditur untuk rapat pertama pada Selasa, 19 Juli mendatang. Batas akhir pengajuan tagihan bagi kreditur pada 30 Agustus 2016.

Sementara itu, rapat pencocokan atau verifikasi tagihan pajak dan tagihan para kreditur akan digelar pada 13 September 2016.

OJK juga telah mencabut izin PT BAJ sejak Oktober 2013, sehingga perusahaan itu dilarang melakukan melakukan kegiatan usaha di bidang asuransi jiwa dan diwajibkan menurunkan papan nama, serta menyelesaikan utang dan kewajiban.

Pasalnya, PT BAJ punya utang senilai Rp 85,6 miliar dari 10.584 pemegang polis, baik polis asuransi perorangan maupun kumpulan. Namun, pihak BAJ menegaskan mereka masih punya aset triliunan.(ZAL)