Larangan Konser Musik di Jombang, Dekajo Angkat Bicara

Sejumlah pelaku seni di Jombang saat menggelar aksi unjuk rasa, usai adanya pelarangan izin konser music di Jombang

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM:  :Dampak adanya larangan kegiatan konser music di Jombang, membuat Dewan Kesenian Jombang (Dekajo) angkat bicara. Dekajo menilai adanya larangan tersebut akan membunuh daya kreatif penggiat seni dan akan mematikan usaha – usaha kreatif di bidang seni music di Jombang.

“Saya kira, pengusaha kreatif akan mati. Satu misalnya, studio musik perlahan akan mati karena tidak laku lagi. Sekarang sudah ada berapa studio musik yang sudah tutup, ini contoh dampaknya. Yang kedua, konser itu tidak hanya mengenai pertunjukan, tapi disitu juga ada banyak ekonomi kreatif yang jalan. Ketika itu dibatasi, kita semua akan kena dampaknya,” ujar Ketua Dekajo, Nanda Sukman, pada sejumlah jurnalis, Sabtu (4/8/2018).

Baca:  Pria di Trenggalek ini Pukul Mantan Istri Pakai Palu

Masih menurut penjelasan Nanda, Dekajo menilai adanya diskriminasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengenai izin konser di Kabupaten Jombang. Namun, dengan diberikannya ruang untuk musik dangdut sedangkan komunitas reggae tidak diberikan ruang, adalah bentuk ketiakadilan yang dilakukan oleh pihak apara penegak hukum.

“Sebenarnya itu tidak fair ya, saya kira pihak berwajib (red : polisi) harus fear lah terhadap permasalahan ini. Kami Dekajo akan menjembatani ini semua,” kata Nanda.

Saat ditanya mengenai solusi untuk menyelesaikan masalah larangan kegiatan bermusik yang dirasakan oleh sejumlah komunitas musik di Jombang ini, Nanda menuturkan bahwa, permasalahan ini harus disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Jombang.

“Betul, saya kira ini harus segera ditindaklanjuti. Ini penting dan harus segera diselesaikan. Tidak ada solusi yang lain, kecuali saling duduk bersama antara Polres Jombang, Pemerintah Kabupaten dan temen – temen komunitas ini,” paparnya.
Diberitakan sebelumnya, dalam setahun terakhir ini, sejumlah komunitas musik di Kabupaten Jombang, seperti reggae, punk dan metal, tidak pernah diizinkan menggelar konser oleh pihak kepolisian.

Baca:  Mini Pom Terbakar, 4 Ruko dan 1 Gudang di Pasar Kesugihan Ludes Dilahab Si Jago Merah

Larangan konser musik reggae di Jombang tersebut merupakan dampak dari adanya peristiwa lagu genjer-genjer yang dibawakan oleh salah satu band reggae saat konser di Mojokerto beberapa tahun lalu.

“Kita dilarang konser di Jombang dikarenakan waktu itu setahun yang lalu event reggae di mojokerto ada band reggae yang membawakan lagu genjer-genjer, dan itu berimbas ke kita. Karena itu, setahun ini kita tidak diperbolehkan membuat konser di jombang,” tegas Sadam, salah satu pelaku seni di Jombang.(elo)