Adat Longkangan Ungkapan Rasa Syukur Nelayan Munjungan Trenggalek

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Longkangan merupakan upacara adat masyarakat dan nelayan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas melimpahnya tangkapan hasil melaut.

Tradisi ini juga berfungsi peringatan kepada leluhur yang membuka kawasan Munjungan utamanya Rara Puthut yang konon oleh Ratu Pantai Selatan dipercaya menguasai kawasan Pantai Ngampiran, Blado, Sumbreng, dan Ngadipuro yang kesemuanya berada di pesisir Kecamatan Munjungan.

Adat Longkangan ini rutin diperingati di Pantai Blado yang terletak di Desa Munjungan Kecamatan Munjungan. Pantai ini terletak di 49 km arah Selatan dari kota Trenggalek, ± 230 kilometer dari Surabaya ibu kota Provinsi Jawa Timur.

Joko Irianto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, mengatakan pelaksanaan sedekah laut Longkangan ini dilakukan tiap Bulan Selo tepat penanggalan jawa, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon.

“Sudah turun temurun, kita mengadakan upacara adat di sini pada Jum’at Kliwon tepat pada Bulan Selo tanggal Jawa,” tuturnya, Selasa, (7/8/2018) di Trenggalek.

Selain unik, upacara adat ini biasa dilakukan pada siang hari menjelang sore. Dengan diawali kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Kecamatan Munjungan sampai di Pantai Blado yang dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan semua Kepala Desa se Kecamatan Munjungan.

“Upacaranya justru menjelang sore, tidak waktu pagi atau malam,” imbuhnya.

Sementara, kirab ini diiringi oleh dayang-dayang serta rombongan jaranan yang berpakaian adat Jawa. Sesampainya di Pantai Blado prosesi Longkangan dimulai. Seperti Labuh larung sembonyo, dalam tradisi longkangan ini juga wajib ada kesenian tayub untuk pelengkap prosesi ini.

“Ada seni langen tayub yang mengiringi dilabuhnya tumpeng itu,” terangnya.

Dipastikan, masih keterangan Joko Irianto,  setiap Longkangan ini digelar, masyarakat Munjungan dan sekitarnya maupun wisatawan selalu berduyung-duyung menyaksikan upacara adat ini. Baik di sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab maupun di lokasi upacara adat ini.

“Wisatawan baik domestik maupun asing cukup menikmati acara tradisional ini yang menambah PAD kita,” tandasnya.

Sebagai puncak acara adat longkangan ini dilakukannya prosesi menghanyutkan Tumpeng Agung di tengah lautan Pantai Blado.

“ Nelayan bersama-sama melarung tumpeng usai itu mereka berpesta dan nelayan diperbolehkan melaut lagi yang sebelumnya beberapa hari sebelum upacara dimulai dilarang melaut terlebih dulu,” pungkasnya. (ham)