Pasca Gempa, Penyakit ISPA dan Diare Mendominasi 

Plt Kepala Dinas Kesehatan NTB Marjito, saat diwawancara di posko BNPB,

LOMBOK UTARA, KANALINDONESIA.COM: Pasca gempa, permasalahan baru kini bermunculan. Khususnya permasalahan kesehatan pengungsi di seluruh posko pengungsian yang ada di Lombok Utara. Kasus ISPA, Diare dan Penyakit Kulit mulai bermunculan dengan catatan kasus yang cukup tinggi.

Plt Kepala Dinas Kesehatan NTB Marjito menuturkan, ada PR besar pasca gempa. Yakni mulai banyaknya penyakit lain yang juga mulai timbul. Seperti ISPA diare dan penyakit kulit.

“Dan ini PR besar kita yang harus kita antisipasi,” ujarnya, Senin (13/8/2018).

Hal ini tak lepas dari penanganan darurat saat ini dinilai memiliki banyak kekurangan. Di antaranya fasilitas air bersih dan MCK juga masih kurang. Itu dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah-masalah baru.

Baca:  BIN Gelar Rapid Test kedua kalinya di Kawasan MRT Blok M

“Sampah-sampah dikhawatirkan juga timbul penyakit baru,” sambungnya.

Untuk MCK, Ia berharap pihak yang bergerak di bidang tersebut bisa bergerak bersama agar tidak ada timbul masalah baru. MCK bukanlah menjadi tanggung jawab Dikes. Namun dampak negatif yang ditimbulkan jika tidak ada MCK menjadi hal yang diwaspadai.

“Makanya saat ini kami sangat berharap pada relawan-relawan untuk konsen terhadap masalah kesehatan tersebut,” harapnya.

Ia mengungkapkan, jumlah penyakit yang muncul pasca gempa terbilang cukup signifikan. Untuk ISPA sebanyak 74 kasus dan Diare 49 kasus. Sisanya beberapa kasus penyakit kulit dan cedera ringan yang masih dalam perawatan. Penyakit kulit muncul akibat kurangnya air bersih dan lingkungan yang tidak bersih.

Baca:  Ratusan Korban Gempa Geruduk Kantor Bupati, Tagih Janji Presiden

“Termasuk kurangnya MCK,” pungkasnya.

Sebab itu pihaknya aktif melakukan sosialisasi pada semua pengungsi melalui para relawan yang sedang bertugas. Tujuannya agar di pengungsian tidak lagi ada masalah kesehatan lainnya. Terutama masalah kebersihan lingkungan.

“Supaya tidak ada lagi yang buang kotoran sembarangan. Itu sangat berpotensi menimbulkan banyak penyakit,” tandasnya.(Idam)