JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Untuk mempercepat tercapainya herd immunity di Indonesia di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah mendorong pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong (VGR). Pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong dipertegas dan diperluas melalui Permenkes No 19 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19. Dalam Permenkes ini secara umum diatur kebijakan Vaksinasi Gotong Royong, yang kini dapat diakses oleh Individu (tidak lagi hanya Badan Usaha), dan sifatnya sukarela (volunteer).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan, “Tujuan utama dari pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong ialah agar dapat mengakselerasi Program Vaksinasi Nasional sehingga dapat segera tercapai herd immunity atau kekebalan komunal. Vaksinasi Gotong Royong merupakan opsi atau pilihan bagi individu yang ingin berpartisipasi dalam percepatan vaksinasi. Saat ini sangat kontekstual mengingat kondisi pandemi yang sedang memburuk di mana vaksinasi merupakan upaya terpenting dalam menguatkan ketahanan kesehatan masyarakat dan sejalan dengan konsep PPKM Darurat”.

Sampai 12 Juli 2021 telah tiba sekitar 133 juta dosis vaksin, dan hingga Juli 2021 ini akan tersedia sekitar 99,5 juta dosis, di mana 4,5 juta dosis diantaranya diperuntukann bagi Vaksinasi Gotong Royong. Vaksin Program akan menggunakan Vaksin Sinovac termasuk produksi Bio Farma, Astra Zeneca dan Moderna; sedangan Vaksinasi Gotong Royong akan menggunakan Vaksin Sinopharm. Hingga 11 Juli 2021, sudah sekitar 51 juta vaksinasi yang dilaksanakan.

Dengan ketersediaan sekitar 95 juta dosis vaksin pada bulan Juli 2021 untuk Vaksinasi Program, maka Vaksinasi Gotong Royong tidak akan menggangu akses publik terhadap vaksinasi, bahkan justru akan dapat mempercepat pelaksanaanya. Dalam waktu sekitar 2 (dua) minggu ke belakang, kecepatan vaksinasi nasional rata-rata sekitar 812 ribu vaksinasi/hari. Hal ini akan terus diakselerasi hingga mencapai sekitar rata-rata sekitar 1,5 juta vaksinasi/hari dan salah satunya melalui Vaksinasi Gotong Royong.

Pemerintah memprioritaskan program vaksinasi pada daerah Zona Merah atau risiko tinggi yang masuk pada PPKM Mikro Darurat. Adapun kriteria dan sasaran vaksinasi akan mencakup masyarakat yang berusia diatas 18 tahun, Ibu Menyusui dan Anak di rentang usia 12 hingga 17 tahun. Untuk mempercepat program Vaksinasi Nasional, Pemerintah melibatkan peran TNI/POLRI, BKKBN dan Bidan, untuk mengoptimalkan semua jalur vaksinasi, serta menambah jam operasional.

“Program Vaksinasi Nasional ini terus dipercepat dengan melibatkan seluruh pihak. Akses terhadap vaksin dipermudah dengan semakin banyaknya sentra-sentra vaksinasi, yang diharapkan juga akan mengurangi kerumunan masyarakat pada saat vaksinasi, terutama pelaksanaan vaksinasi di daerah,” ujar Menko Airlangga.

Kedepannya, mulai Agustus hingga akhir 2021, ketersediaan Vaksin Program diperkirakan akan mencapai total 365 juta dosis atau dapat menvaksinasi sekitar 160 juta orang (2 dosis per orang). Namun demikian, pemerintah akan terus berupaya untuk mendapatkan vaksin dari berbagai negara dan produsen vaksin, hingga bisa memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Indonesia, termasuk melakukan pengembangan Vaksin Merah Putih. Di sisi yang lain, Pemerintah terus mempercepat pengembangan Vaksin Merah Putih yang saat ini masih berproses di 7 (tujuh) Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi.

Vaksinasi Gotong Royong untuk individu dapat dilakukan di fasilitas kesehatan. Saat ini, telah ditetapkan 444 Fasilitas Kesehatan, yang dapat melayani Vaksinasi Gotong Royong, yang terdiri dari 212 Rumah Sakit dengan rata-rata tenaga kesehatan 8 orang dan 179 Klinik dengan rata-rata tenaga kesehatan 4 orang. Layanan Vaksinasi Gotong Royong berupa layanan walk-in berbayar akan tersebar di 27 provinsi.

Mengingat jumlah dan peningkatan kasus Covid-19 terbesar di Jawa-Bali, maka untuk tahap awal, pada Senin 12 Juli 2021, akan ada 9 lokasi untuk vaksinasi gotong royong, yaitu 1 di Bandara Soekarno Hatta dan 8 di Klinik Kimia Farma yang berada pada Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya dan Bali dengan kapasitas sekitar 1.700 orang/hari. Bagi penduduk usia di atas 18 tahun, diberikan pilihan antara Vaksin Program yang gratis dari pemerintah atau vaksin Gotong Royong (walk-in berbayar). Selanjutnya, rumah sakit dan klinik lainnya, termasuk swasta juga akan menyediakan layanan Vaksinasi Gotong Royong.

Menko Airlangga menegaskan, Vaksin Program yang gratis dari pemerintah tetap akan berjalan sesuai dengan skema dan jadwal yang telah ditetapkan. “Pada prinsipnya, vaksin untuk masyarakat adalah gratis, sehingga bagi masyarakat yang ingin menunggu Vaksin Program, tetap dipersilahkan memakai Vaksin Program. Pemerintah pun terus mengambil langkah percepatan pelaksanaan untuk Vaksin Program ini,” tambah Menko Airlangga.

Hal yang krusial adalah upaya perlindungan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan. Pada Minggu 11 Juli kemarin, Indonesia telah mendapatkan 3 juta dosis vaksin Moderna melalui fasilitas Covax dari Pemerintah Amerika Serikat. Karena itu, sekitar 1,47 juta dosis dari Vaksin Moderna ini akan diperuntukkan bagi Tenaga Kesehatan sebagai booster vaksin ke-3 agar dapat lebih terlindungi secara maksimal.

Vaksinasi merupakan syarat perjalanan Internasional sesuai ketentuan Adendum Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 8 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional, WNA wajib menunjukkan kartu atau sertifikat telah menerima vaksin atau telah melakukan vaksinasi sebagai syarat melakukan perjalanan internasional keluar maupun masuk ke Indonesia. Karena itu, pilihan menggunakan Vaksin Gotong Royong yang berbayar ini, juga dapat dimanfaatkan bagi Warga Negara Asing (WNA) pemegang KITAP/KITAS (Kartu Izin Tinggal Tetap/ Terbatas), sehingga dapat memenuhi ketentuan untuk melakukan perjalanan internasional sesuai Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19. (ekon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here