PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Dikarenakan terbukti melakukan pelanggaran kode etik profesi Polri dengan telah meninggalkan tugas dinasnya secara tidak sah dalam waktu lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut,  Bripka MA, anggota Polres Ponorogo menjalani proses Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PTDH) di halaman Mapolres, Senin (12/07/2021).

Bripka MA meninggalkan dinas terhitung mulai 21 Desember 2018 sampai dengan sekarang dan diberhentikan berdasar Pasal 14 ayat (1) huruf (a) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Upacara PTDH dilaksanakan secara in absensia dikarenakan yang bersangkutan tidak hadir.

Kapolres Ponorogo AKBP Mochamad Nur Azis dalam amanatnya menyampaikan bahwa, dalam proses pembinaan SDM Polri tidak lepas dari siklus manajemen SDM Polri yang terdiri dari penyediaan, pendidikan, penggunaan, perawatan dan pengakhiran dinas. Untuk pengakhiran dinas itu sendiri meliputi Pemberhentian Dengan Hormat (PDH) dan Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PTDH).

“Perlu kita ketahui, upacara PTDH yang kita laksanakan ini merupakan salah satu wujud dan bentuk realisasi komitmen pimpinan Polri dalam memberikan sanksi hukuman bagi personil yang melakukan pelanggaran baik pelanggaran disiplin maupun kode etik Kepolisian Negara Republik Indonesia,” ucap Kapolres Ponorogo AKBP Mochammad Nur Azis kepada kanalindonesia.com.

Pelaksanaan upacara seperti ini tentunya dapat terlaksana sesuai tahapan- tahapan, proses yang sangat panjang, penuh pertimbangan dan senantiasa berpedoman kepada koridor hukum yang berlaku, sebagaimana ditinjau dari beberapa asas diantaranya asas kepastian hukum, asas kemanfaatan dan asas keadilan.

“Sebagai manusia biasa saya merasa berat dan sedih melakukan upacara ini, karena imbasnya bukan hanya kepada yang bersangkutan saja, tetapi kepada keluarga besarnya, namun pimpinan Polri telah melakukan langkah – langkah lainnya sebelum dilakukan PTDH seperti proses panggilan dengan maksud yang bersangkutan bisa berubah lebih baik dan disiplin dalam berdinas sampai akhirnya yang bersangkutan dipandang tidak layak dipertahankan sebagai anggota Polri,” ungkapnya

AKBP Azis menandaskan,” saya berharap kepada seluruh personil Polres Ponorogo dan jajaran secara pribadi maupun atas nama pimpinan untuk tidak ada lagi upacara seperti ini diwaktu yang akan datang. Untuk itu, mari kita ambil hikmah serta pelajaran dari upacara PTDH ini dijadikan introspeksi diri dan cerminan agar bisa menjadi lebih baik dalam menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here