Bangga Pada Sang Legenda, Warga Latukan Lamongan Buat Miniatur Choirul Huda

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Warga Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan, memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-73 dengan berbagai rangkaian kegiatan. Kegiatan yang berisi perlombaan dengan partisipasi masyarakat sebagai pesertanya. Dari lomba yang berskala kecil hingga yang besar. Kegiatan yang berskala besar diwujudkan dalam bentuk kegiatan karnaval yang dilaksnakan pada hari Minggu (19/8/2018).

Ratusan peserta yang berkumpul di lapangan desa ditambah dengan warga masyarakat dari dalam Desa Latukan sendiri dan juga warga luar desa yang berbondong-bondong ingin menyaksikan adu kreasi antar RT ini menambah meriah suasana pelaksanaan karnaval yang rutin dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Latukan setiap tahun di bulan Agustus.

Kostum adat, ogoh-ogoh dan bentuk kreativitas yang lain muncul dengan keselarasan untuk memerihkan HUT Kemerdekaan RI kali ini.

Baca:  BPBD Lamongan Tambah Armada Tangki Atasi Krisis Air Bersih

Arif Nur Hidayah, Ketua Panitia Peringatan HUT Kemerdekaan RI Desa Latukan, mengatakan bahwa kegiatan karnaval ini kegiatan tahunan yang selalu dinanti oleh warga Desa Latukan dan bahkan masyarakat dari desa lain sebagai wujud adu kreasi antar RT.

“Pemerintah Desa Latukan hanya memberikan fasilitas saja untuk kegiatan ini, semuanya warga masyarakat sendiri yang berkreasi beserta pembiayaannya, ” kata Arif, yang juga menjabat Sekretaris Desa Latukan tersebut.

Puluhan bentuk ogoh-ogo, miniatur bangunan dan patung seni berdiri tegak di lapangan desa. Ada satu yang menarik perhatian masyarakat yakni Patung (miniatur) Almarhum Choirul Huda, sang Kapten Persela yang meninggal sesaat bertabrakan dengan rekan setimnya saat menjamu Semen Padang setahun yang lalu.

Baca:  Destinasi Wisata Tradisi Warga Mungli Lomba Tangkap Ikan

Siswo Tulus Widodo (30) sang inspirator pembuatan patung Choirul Huda mengatakan pembuatan miniatur Choirul Huda tersebut terinspirasi dengan kekagamuman dia dan teman-temannya akan dedikasi sang pemain karena mulai menekuni karir sepak bola profesional sampai akhir hayatnya tetap untuk Persela.

“Saya dan teman-teman sedikit perihatin karena patung yang dibuat oleh warga yang untuk karnaval banyak tokoh-tokoh yang jauh dengan kita bahkan kita tidak mengenalnya, sementara kita (warga Lamongan) punya Choirul Huda sang legendaris,” terang Tulus seraya berkaca-kaca matanya.

Lebih lanjut Tulus mengatakan, ikon kepahlawanan ini sangat menginspirasi masyarakat sehingga perlu diperkenalkan lebih mendalam kepada warga Desa Latukan khususnya dan warga Kabupaten Lamongan pada umumnya terutama generasi muda agar mengetahui bagaimana Choirul Huda mendedikasikan hidupnya untuk Persela dan Lamongan.

Baca:  Yuhronur Efendi: Kejuaraan Pencak Pesilat Diajak Jaga Kondusifitas

Ide tersebut mendapat respon dari seluruh pemuda dan warga RT 15, sehingga dengan kekompakan mereka wujudkan dengan munculnya patung Choirul Huda sebagai ikon dari RT mereka.

“Selama satu bulan, kami warga RT 15 menyelesaikan patung tersebut. Kami kerjakan sehabis sholat Isya’ hingga larut malam,” sambung Tulus.

Untuk membuat miniatur Choirul Huda tersebut, membutuhkan modal sangat banyak. Warga tidak mempermasalahkan anggarannya.
Ini juga iuran warga. Yang penting untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia, warga rela iuran.

“Biasanya, karya ini juga disewakan ke desa lain, sehingga ada pemasukan untuk kas RT. Biasanya untuk syukuran dan makan bersama warga. Untuk biaya pembangunan juga,” pungkas Tulus. (omdik/fer/bis)