​Gie Yong Bio Klenteng Pahlawan Warga Lasem


KANALINDONESIA.COM : Tiga Bersaudara, RM.Panji Margono, Mayor.Oey Ing Kiat dan Tan Kie Wie, adalah ka- wan Pahlawan Nasional, Pangeran Sambernyowo, melawan penjajah Belanda. Perjuangan dan pengorban jiwa-raga mereka terhadap warga Lasem yang enggan dijajah Belanda, dikenang dan dihormati dengan didirikan Klenteng Gie Yong Bio, di Babagan-Lasem. Kanalindonesia.com, menengok klenteng tua ini, Rabu(05-10-2016).
 Nita Selaku penjaga klenteng mengatakan, Dari catatan sejarah yang ada, RM.Panji Margono Putrotejokusumo V, Adipati Lasem (1714-1727) dan digantikan Adipati Oey Ing Kiat bergelar R.Ngabehi Widyadiningrat (1727-1743). Sedangkan Tan Kie Wie seorang tai-pan dan suhu kungfu. Dimasa hidupnya, tiga bersaudara itu merupakan tokoh panutan warga Lasem-Rembang. 

Ketiganya dendam pada penjajah Belanda yang menindas rakyat. Mereka menjalin tali persauda- raan disebuah kuil di Lasem dan berikrar, sehidup-semati melawan dan mengusir penjajah Belan da dari Bumi Lasem. Ikrar itu dipenuhi malahan hingga ketiganya gugur di medan laga melawan kompeni Belanda. 

Baca:  Menteri Sosial Agus Gumiwang Targetkan Penurunan Kemiskinan Hingga 9,5 persen

This bersaudara itu amat berarti bagi Pangeran Sambernyowo yang kelak diangkat Belanda jadi Mangkunegoro I bertakhta di Kraton Mangkunegaran, Surakarta. Ditahun 1700-an itu, P.Sam- bernyo-wo berontak melawan penjajah Belanda Menggelar medan peperangan dari Surakarta, Salatiga, Grobogan sampai wilayah Lasem-Rembang, ujar Nita. 
Dia menambahkan, Ketika P.Sambernyowo kehabisan dana, amunisi atau kuda tunggangan, bahkan bala bantuan berupa prajurit  karena banyak yang gugur, tiga bersaudara cepat memberi bantuan.  Mereka ber- tiga mengobarkan perang dengan sandi Godo Balik dari pantai Lasem, Rembang, Juwana, Pati hingga Jepara sepanjang 100 Km. 

Perang Godo Balik Lase, berlangsung tahun 1743-1750, akhirnya ditumpas Belanda yang memili  ki peralalatan perang lebih modern. Itu ditandai dengan gugurnya Tan Kie Wie di Selat Manda- lika-Jepara. Disusul Oey Ing Kiat gugur di Desa Layur Lasem. Paling akhir RM Panji Margono juga gugur diberondong tentara Belanda di Desa Karangpace Narukan, Lasem. 

Baca:  Polres Kendal Launching kan Icon Bhabinkamtibmas Candi dan Kampung Siaga Candi

Tiga puluh tahun kemudian yaitu tahun 1780, warga pribumi dan Tionghoa di Lasem, membuat monumen berupa klenteng/kuil dinamai Gie Yong Bio di Babagan-Lasem. Kuil khusus ini untuk mengenang jasa dan heroisme kepahlawanan tiga bersaudara itu yang rela berkorban jiwa raga demi bangsa-negara Indonesia.                 

Didalam klenteng itu terdapat altar utama untuk patung Khong-co (orang tua yang dimuliakan) Oey Ing Kiat & Tan Kie Wie mengenakan sepatu lars.  Di altar lain pavilion sebelah kiri klen- teng, dipasang altar Khong-co RM.Panji Margono lengkap dengan tutup kepala blangkon, jas Ke jawen dan sandal selop yang lazim dipakai seorang ningrat berdarah biru. 

Baca:  Kominfo Prediksi Bakal Terjadi Kenaikan Traffic Selular Saat Lebaran di Tengah Pandemi COVID-19

P.Sambernyowo tahun 1980 dapat anugrah negara sebagai Pahlawan Nasional. Tapi Tiga Ber saudara rekan seperjuangannya, Oey Ing Kiat, Tan Kie Wie, RM Panji Margono, sampai seka- rang belum mendapat gelar kehormatan itu. Nama, jasa dan pengorbanan mereka, seolah telah di lupakan. Mereka hanya memperoleh gelar Khong-co di klenteng tersebut. Sementara kondisi fi sik klenteng sangat renta, bangunannya disana-sini keropos dan tidak ada yang memperhatikan, ujarnya. (Andi saputra)