Begini Cara Warga Ngayung Lamongan Melestarikan Tradisi Nyadran Budaya Leluhur…

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Berbagai cara yang dilakukan masyarakat Indonesia untuk melestarikan budaya peninggalan nenek moyang dengan kegiatan-kegiatan unik. Seperti salah satu tradisi masyarakat Desa Ngayung, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang dipercaya bisa memberi keselamatan juga membawa keberkahan yang melimpah.

Tradisi Nyadran hingga saat ini sudah menjadi agenda tahunan yang terus dilestarikan masyarakat Ngayung. Tradisi ini digelar sebagai wujud syukur masyarakat kepada Allah SWT terhadap keberkahan hasil panen padi maupun palawija yang melimpah.

Rangkaian tradisi di mulai dari berdoa bersama di makam keramat Syekh Abdul Kadir Hamid, orang pertama yang memberi nama desa “Ngayung” sejak ratusan tahun lalu, dilanjut mengarak kerbau seberat 175 kilogram keliling desa, setelah itu prosesi pemotongan kerbau.

Yang menarik pada tradisi Nyadran ini yaitu, mulai pemotongan daging kerbau hingga yang memasak semua dikerjakan secara gotong royong oleh kaum laki-laki. Adapun hasil masakan kemudian dibungkus satu persatu lalu diberikan kepada seluruh masyarakat.

Menurut Kepala Desa Ngayung Supratman, adanya tradisi ini benar-benar dirasakan masyarakat. Kepercayaan tersebut terbukti saat melihat tanaman padi dan palawija milik petani yang terhindar dari serangan hama apapun. Padahal sejauh ini serangan hama tikus di Lamongan masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB), hama tikus menyerang habis tanaman padi, jagung maupun palawija lainnya.

“Alhamdulillah, ditempat kami aman dari serangan hama. Meskipun ada hanya sedikitlah. Padahal di desa tetangga tanaman padi dan palawija habis dimakan tikus,” kata Kades Ngayung.

Supratman menambahkan potensi perekonomian pendapatan masyarakat melalui sektor pertanian, terbilang cukup besar. Seperti terlihat pada keberhasilan tanaman padi yang menghasil panen sebanyak 1.468,8 ton dalam sekali panen, sementara dalam setahun bisa dua kali masa panen. Selain padi ada pula tanaman palawija jenis kacang hijau, dalam sekali panen dapat menghasilkan 244,8 ton.

“Hasil pertanian kami terus mengalami peningkatan masa panen. Jadi bentuk syukur karena melimpahnya hasil panen, beberapa kelompok pemilik sawah atau disebut (Gogol), rutin memberi modal secara bergantian untuk menggelar tradisi nyadran tiap tahunnya,” jelas Supratman saat di liput awak media.

Selain itu, kesadaran masyarakat ngayung terhadap kebersamaan terasa begitu kental. Itu dilihat dari kebiasaan kerjasama dengan cara saling membantu dan mengajak masyarakat lainnya berbondong bondong untuk bekerja ataupun mengelola usaha, baik bekerja diluar kota maupun dikota sendiri.

Sementara melihat kebersamaan di desa ngayung yang hidup bergotong royong baik bersifat sosial, keagamaan, hingga kegiatan apapun sudah menjadi cerminan dan kebiasaan jejak leluhur yang sudah menurun ke masyarakat. Dengan begitu, kondisi masyarakat ngayung hidup rukun, guyup, makmur dan jauh dari kemiskinan.

Pemerintah desa mengharapkan, tradisi Nyadran ini sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman yang semakin modern. Sehingga generasi penerus bisa merawat kekayaan leluhur selama-lamanya. (Omdik/Fer/Bis)