Dampak Industri Migas Diyakini Mampu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Sekitar

Kepala program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Darul Ulum Jombang Dr. Junaidi. MS.i

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM :Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) di Blok Brantas yang kini dikerjakan Lapindo Brantas, Inc, tepatnya di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, diharapkan bisa berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Kepala Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Darul Ulum Jombang Dr. Junaidi. MS.i mengatakan, Kecamatan Kesamben yang masuk dalam kawasan blok utara Jombang, diyakini akan berubah menjadi industri yang massif sesuai dengan rancangan tata ruang wilayah yang dicanangkan pemerintah daerah.

“Rancangan Kabupaten Jombang kan membangun industrinya di kawasan utara. Nah kalau Lapindo jadi produksi disana (red : kesamben), efek ekonomi masyarakat akan bisa tumbuh pesat, semisal tumbuhnya beberapa usaha baru yang mendukung,” kata Junaidi saat ditemui di kampus Undar, Senin (24/09/2018).

Menurut Junaidi, dari kacamata ekonomi, hadirnya kegiatan migas di Blok Brantas akan berdampak pada tumbuhnya sektor ekonomi lain, baik yang mendukung industri (red : migas) maupun pelengkap dari industri itu sendiri.

”Di situ juga akan melibatkan masyarakat di bidang ekonomi. Masyarakat juga akan mungkin membuka usaha baru juga kan. Misalnya jasa yang mendukung industri itu, penginapan atau makanan misalnya. Nah itu juga peluang bagi masyarakat sana,” terang pria yang juga mengajar Strata 2 di Pascasarjana Undar Jombang ini.

Junaidi juga menyampaikan, hasil dari kegiatan migas ini akan bisa membantu Pemerintah Kabupaten dalam hal pendapatan daerah. Dimana hasil dari pendapatan tersebut, juga akan kembali untuk kepentingan masyarakat.

“Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jombang bisa bertambah tentunya,” ujarnya.

Lebih lanjut Junaidi menerangkan, suatu industri harus tetap berjalan di era industrialisasi saat ini, dengan memberi dampak positif di semua aspek. “Kalau orang ekonomi melihatnya kan, tetap harus berjalan (red : industri). Tetapi dengan persyaratan yang ketat, dan harus bisa memberikan imbal balik ke masyarakat. Imbal balik ekonomi dan imbal balik sosial,” pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (kominfo) Kabupaten Jombang, Budi Winarno meyakini, jika ekplorasi berhasil dan berlanjut hingga tahap produksi, dipastikan efek ekonomi ke daerah akan bertambah. Hasil yang masuk ke kas negara dalam hal ini disebut Produk Domistik Bruto (PDB) nasional akan dibagi dan diberikan ke Kabupaten Jombang.

“Sama dengan hasil hutan. Jadi itu nanti dihitung oleh Kementerian Keuangan misal Jombang mendapat sekian. Jadi jika nanti sudah berdiri, strata sosial masyarakat meningkat, ekonomi naik dan daya beli tinggi. Ya, bisa jadi Kesamben berubah menjadi kota dan masyarakat harus siap,” kata Budi Winarno.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang Mas’ud Zuremi yang mengatakan bahwa dampak ekonomi dari berdirinya industri migas pasti akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Jika berkaca pada kabupaten lain, seperti kawasan Cepu di Kabupaten Blora, pertambangan sudah menyuplai peningkatan ekonomi yang cukup besar.

“Yang jelas, APBD akan meningkat. Daerah akan mendapatkan bagian persentase dari pusat. Selain itu ekonomi masyarakat di sekitar akan tumbuh dengan perdagangan dan macam-macam,” ujar Mas’ud.

Semakin meningkatnya aktifitas kegiatan di industri migas, secara tidak langsung akan mendatangkan banyak pekerja baik dari lokal maupun dari luar, seperti tenaga ahli.

“Mereka kan pasti bertempat di situ dan memerlukan tempat tinggal. Jadi ada dampak ekonominya,” kata Mas’ud.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jombang ini juga meyakini, jika Lapindo berproduksi di situ, desa tidak akan pernah ditiinggalkan. Pasti akan mendapatkan CSR dari produksi itu. Bahkan, ia menyebut Jika ada yang masih menolak itu cukup wajar.

“Mungkin masih ada rasa kekhawatiran seperti di Porong. Tapi saya yakin ndak mungkin, karena Lapindo sudah melakukan riset begitu lama. Dan tidak mungkin gagal dua kali,” imbuh pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Jombang ini menjelaskan.(elo)