Bupati Trenggalek Bikin Skema Pendistribusian Air Bersih

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Bupati Trenggalek, Jawa Timur, H Emil Elestianto Dardak, membuat skema mengatasi kekeringan yang terjadi melanda wilayah dengan 14 kecamatan ini. Pemerintah menyiagakan satu kendaraan tangki air di Kecamatan Watulimo, dua di Kecamatan  Panggul dan satu di Kecamatan Trenggalek atau wilayah kota.

Dengan adanya empat truk tangki itu , maka menepis anggapan jika pemerintah tidak hadir ketika warganya sedang mengalami kesusahan akibat bencana kekeringan tersebut.

Emil Dardak menegaskan, skema pendistribusian air untuk mengatasi kekeringan yang terjadi sebagai tindakan efektifivitas sehingga kendala yang terjadi segera teratasi.

“Bila tidak kita susun seperti itu bisa jadi sporadis. Masyarakat jadi menganggap Pemerintah tidak hadir dan masyarakat menjadi menanti-nanti datangnya distribusi air,” terang suami Arumi Bachsin ini.

Dengan menyiagakan kendaraan di beberapa tempat, Doktor lulusan Jepang ini meyakini pendistribusian air akan lebih efisien.

BACA : Mengenal Sosok Welas Arso….

“Idealnya bisa menambah kapasitas pengiriman,” tuturnya.

Dirinya mengaku bersama Wabup telah mengecek ada laporan di Dusun Sumber Desa Prigi Kecamatan Watulimo ternyata juga ada bencana kekeringan.

“Akhirnya kita mencoba memikirkan, kalau tidak ada pola bisa saja seperti ini masyarakat seminggu belum dilayani,” ungkapnya.

Dengan seminggu belum dilayani, masyarakat bisa saja beranggapan kemana ini pemerintahnya. Makanya tadi dirinya menjelaskan situasinya seperti itu kepada masyarakat.

“Kita sebagai pemerintah harus turun dan menjelaskan kepada masyarakat,” terangnya.

Dikatakannya, bencana kekeringan di Trenggalek semakin meluas, mendapat data hampir semua kecamatan kecuali Desa Cakul di Kecamatan Dongko, mengalami kekeringan 15 hingga sebanyak 20 Rukun Tetangga (RT), sesuai dengan titik yang terlaporkan oleh camat masing-masing daerah.

“Kami sudah estimasikan kebutuhan air tiap titik 1.000 liter per hari per RT. Namun tantangannya sekarang setelah ketemu masyarakat, ekspektasi mereka 5 rumah per hari 1.000 liter atau per rumah 200 liter per hari,”katanya.

Emil Dardak mengaku  tidak bisa menyalahkan, karena memang kondisi saat ini agak sulit dan kekeringan ini meluas, hingga tidak bisa memberikan kepastian bagi mereka.

“Taruhlah kita ambil perhitungan kalau dua tandon kapasitas 1000 liter ini habis dua hari untuk lima rumah dan truck ini bolak balik dalam sehari 5 kali maka akan dibutuhkan 100 truck tiap harinya. adahal kita armadanya cuma ada empat truck tengki air,” tandasnya.

Dilanjutkannya, penyiagaan truck tengki di beberapa tempat ini menjadi salah satu solusi untuk permasalahan ini. Selain itu solusi lain yang mungkin bisa dilakukan salah satunya pendistribusian air menggunakan tandon air yang ditaruh di atas truck.

“Untuk menjangkau beberapa titik kekeringan yang terjangkau dan aksesnya tidak terjal,”tegasnya.

Namun tantangannya, lanjut Emil,  dengan cara ini pengisiannya mungkin akan lebih lambat dibandingkan dengan mobil tanki, kecuali bila dilengkapi dengan pompa air.

“Sekarang kita harus pikirkan pompa pengisiannya, karena itu untuk mempercepat distribusi itu,” pungkasnya.(ham)