Miras dan Rokok Ilegal, Polisi Harus Usut Otak Pelaku

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Sinergitas dan kerja sama Kementerian Keuangan, Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Polri, Kejaksaan dan TNI membuahkan hasil gemilang.

Upaya penyelundupan 16,8 juta batang rokok dan 960 botol minuman mengandung etil alkohol (MMEA) ilegal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya berhasil dicegah.

Dalam rilis Kamis (2/8/2018), petugas menetapkan pimpinan PT Golden Indah Pratama, Daniel sebagai tersangka. Dibarengi dengan tindakan disiplin terhadap oknum pejabat internal instansi itu yang diduga ikut terlibat, oknum di eselon dua, Dedy. Atas pelanggaran yang dilakukan petugas itu kemudian dipindah tugaskan ke Maluku.

Saat konferensi pers, hasil penyitaan yang dilakukan terhadap kontainer tertanggal 16 Mei dengan status HM 1X40, tanggal 21 Mei status HM 1X40, dan tanggal 24 Mei status HM 2X40. Ternyata, ada lainnya tertanggal 26 Juni 2018 dan kontainer 14/8/2016 status MK 1X20.

Terlepas dari apresiasi terkait keberhasilan penggagalan penyelundupan itu, jika dicermati dari ada yang janggal karena seharusnya bukan hanya tiga kontainer. Masih ada sejumlah kontainer lainnya hasil penindakan yang dilakukan, tetapi entah dimana sekarang.

Terkait hasil ungkap kasus itu, SW Diharjo dari Indonesia Corupption Monitoring (ICM) memberikan uraian soal adanya dugaan kejanggalan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

“Kita tetap mengapresiasi kinerja aparat terkait. Namun, dari ICM ingin mengoreksi dan mengingatkan, bahwa jumlah keseluruhan hasil tangkapan adalah sebanyak tujuh kontainer,” kata Diharjo, Selasa (10/9/2018).

ICM menyebut, itu seharusnya tidak boleh terjadi karena selain mengebiri hak masyarakat untuk tahu atas sebuah fakta dan kebenaran, juga sangat tidak santun jika sengaja ada ‘permainan’ terkait dengan hal-hal seperti itu, apalagi soal prestasi hasil tangkapan.

“Terus terang kita (ICM) heran, kenapa ada yang ditutupi,” tegasnya.

Selain jumlah kontainer, ICM juga menyoroti kenapa hanya nama Daniel yang muncul. Menurut ICM, seharusnya ada nama lain yang punya peran penting dalam upaya penyelundupan yang berhasil digagalkan itu, yakni OD pemilik perusahaan dan AW, orang penting yang namanya tercatat sebagai salah satu pemegang Panama Paper.

“Dari data kami (ICM), seharusnya ada nama penting lainnya, yaitu OD. Kita jadi heran kenapa nama itu tidak muncul,” tegasnya.

Soal kejanggalan itu, pihak ICM berkomitmen akan terus menelusurinya termasuk siapa yang diduga ikut bermain.

“Kita akan telusuri kenapa bisa begitu, dan siapa yang bermain,” tambahnya.

Seperti telah diberitakan, setelah dilakukan konferensi pers, ungkap kasus pencegahan penyelundupan rokok ilegal dan minuman keras, yang dihadiri Kementerian Keuangan Sri Mulyani dan pejabat terkait kemudian dilanjutkan dengan pemusnahan barang bukti hasil sitaan.

Berkat kerja sama pihak terkait, penyelundupan tiga kontainer itu berhasil digagalkan. Sebelumnya, kontainer itu disita oleh Bea Cukai setelah diangkut kapal dari Singapura, 24 Juni 2018. Keberhasilan petugas gabungan itu tak lepas dari informasi yang di dapat bahwa ada pengiriman dari Singapura ke Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Terbongkar, barang di dalam kontainer itu tidak sesuai dengan dokumen kepabeanan yang tertera. Bahkan, ICM menyebut juga ada kejanggalan terkait status kontainer, yakni yang menandai code HM atau Hitam Merah dan code MK atau Merah Kuning.

“Kami mengapresiasi Bea Cukai yang telah berhasil melakukan penertiban cukai untuk barang berisiko tinggi tersebut,” ujar Sri Mulyani di acara pemusnahan.

Sri Mulyani menyebut, keberhasilan penggagalan dan penertiban barang-barang ilegal tersebut ikut mengurangi terjadinya kerugian negara. Ditegaskan, jika minuman beralkohol ilegal itu sampai masuk ke Indonesia maka negara akan kehilangan pemasukan sebanyak Rp57,7 miliar.

“Dalam dokumen, barang yang dikirim adalah benang polyester sebanyak 788 packed. Namun, dari analisa intelijen dan pemeriksaan fisik, tiga kontainer ternyata berisi 50.664 botol minuman keras,” terang Sri Mulyani di Tempat Pemeriksaan Barang di Container Freight Station (CFS) milik PT Terminal Peti Kemas (TPS) di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.ria