Pasca Gempa, Kerugian PDAM Capai 25 Miliar

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tanjung, Raden Waliadin, saat di wawancarai di kantornya, beberapa waktu lalu.

TANJUNG,KANALINDONESIA.COM: Pasca Gempa, Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tanjung, Raden Waliadin akui, alami kerugian sampai Rp 25 miliar lebih. Kerugian ini di hitungnya dari kerusakan fasilitas jaringan, broncap mata air hingga kerusakan kantornya.

“Ya kerugian kita taksir mencapai Rp 25 miliar lebih. Itu kerugian mulai dari fasilitas jaringan, broncap hingga kantor PDAM sendiri,”ungkap, Waliadin, Rabu (10/10/2018).

Ia menjelaskan, hitungan kerugian yang dialami masih bersifat hitungan sementara. Namun, hitungan kerugian tersebut sudah di sampaikan ke pihak terkait, seperti kementerian PUPR, BNPB, BPBD dan DPRD juga sejumlah instansi terkait lainnya.

Diakuinya, kerugian terbesar dialami PDAM terletak pada pelayanan pelanggan, karena alat meteran yang menjadi tolak ukurnya rata-rata mengalami rusak berat. Selain itu, kerusakan besar juga terdapat pada jaringan pipa dan broncap yang ada di mata air Jonplanka Anjah kecamatan Gangga.

“Kita totalkan sementara kerugian kerusakan meteran kita mencapai Rp 7,5 miliar lebih. Karena total pelanggan khusus dari masyarakat kita mencapai 7 ribu pelanggan dari 14 ribu pelanggan kita,”jelasnya.

Ia berharap, untuk saat ini masyarakat bisa kembali lagi kerumahnya masing-masing dari tempat pengungsian. Tujuannya supaya bisa lebih mudah penangan untuk perbaikan kerusakan meteran pelanggan. Sebab kerusakan meteran itu menjadi tanggung jawab PDAM.

Lanjutnya, untuk jumlah pendapatan yang hilang pasca gempa sampai saat ini, diakuinya mencapai Rp 5 miliar lebih. Sebab dibandingkan dengan hitung dari besaran pendapatan sebelum bencana, bisa mencapai Rp 1 miliar lebih perbulannya.

“Kalau sekarang ini PDAM hanya mengandalkan pendapatan dari pelanggan hotel dan perkantoran yang ada, itupun tidak banyak jumlahnya,” Imbuhnya.

Sedangkan untuk pelanggan dari masyarakat tidaklah banyak, karena yang sudah beroperasi pun hanya di bebankan biaya beban dasar saja untuk operasionalnya. Itu pun tidak maksimal seperti semula.

Bahkan menurutnya, pendapatan itu masih jauh dari targetnya, yakni Rp 12 miliar per tahunnya. Namun saat ini dirinya hanya bisa berharap, kembalinya masyarakat kerumahnya masing-masing.

“Karena jika ada kerusakan akan lebih cepat dan mudah untuk di perbaiki, dan kerusakannya akan perbaiki dan diganti dengan gratis,” pungkasnya. (Idam)