Pangdam IV Diponegoro: Masyarakat Semarang Diharapkan Memiliki Jiwa Patroitik Yang Luar Biasa

SEMARANG, KANALINDONESIA.COM: Peringatan pertempuran lima hari di Semarang merupakan peristiwa heroik yang tidak mungkin dapat kita lupakan. Masyarakat Semarang harus dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dan pelajaran-pelajaran penting dari apa yang telah dikorbankan oleh para pahlawan dalam pertempuran lima hari di Semarang.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto mengatakan bahwa masyarakat Semarang memiliki jiwa patriotik yang luar biasa, dengan spontanitas mereka bisa bersatu, bergotong-royong, bahu membahu dan tidak mengenal latar belakang suku, agama, ras, mereka bersama-sama bersatu untuk mencapai tujuan mempertahankan kemerdekaan.

“Keadaan ini merupakan modal yang sangat besar untuk masyarakat Kota Semarang, Jawa Tengah dan Indonesia,”

Ujar Mayjen TNI Wuryanto, dalam upacara peringatan pertempuran lima hari di Semarang, di kawasan Tugu Muda Kota Semarang, Minggu malam (14/10/2018).

Baca:  Sambut Hari Juang Kartika, Kodim 0812/ lamongan Gelar Donor Darah

Menurutnya, pada hahekatnya seluruh masyarakat Indonesia sudah mempunyai dan mewarisi jiwa patriotik yang luar biasa dari para pahlawan, sehingga kita harus menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh para pahlawan, semua hanya demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

“bahwa untuk mencapai semua itu tidak mungkin hanya dilakukan oleh satu pemimpin saja, baik Wali Kota, Gubernur atau Presiden, tetapi perlu kerja sama. Semua komponen masyarakat harus bahu membahu, bergotong-royong dengan satu tujuan Indonesia yang hebat, adil dan makmur,” terangnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, serta Purnawirawan, Pejuang dan Veteran.

Baca:  Dandenma Kormar Pimpin Sulitnya Lintas Medan Gunung Salak

Acara peringatan pertempuran lima hari di Semarang juga dimeriahkan oleh Drama Treatikal yang menggambarkan perjalanan pertempuran selama 5 hari di Kota Semarang yang ditandai dengan gugurnya Kepala Laboratorium Purusara dr. Kariadi. (Ndi)