SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Dimasa pandemi Covid-19 saat ini mengalami peningkatan, membuat sektor ekonomi anjlok. Hal tersebut juga dirasakan oleh para seluruh pelaku usaha, salah satunya yaitu penjual hewan kurban.

Sepinya pembeli dikeluhkan penjual hewan kurban di Surabaya bernama Sudahnan, warga asal Sumenep, Madura. Mengingat Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriyah yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2021.

Menurutnya, sejak diberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat khususnya di Kota Surabaya, penjualan hewan kurban merugi hingga 30 persen. Angka tersebut jauh dari tahun 2020 lalu.

“Alhamdulilah, tapi kalau seperti yang tahun kemarin jauh, penjualan itu jauh. Sampai kira-kira itu 30 persen,” kata Sudahnan, Kamis (15/7/2021).

Dirinya menilai, turunnya animo masyarakat membeli hewan kurban akibat masa pandemi yang tak kunjung usai. Selain itu, ia juga menyebut kemungkinan karena keputusan sejumlah pengurus masjid untuk tidak menyembelih hewan kurban di masa PPKM.

“Banyak masjid katanya nggak bisa menyembelih (hewan kurban), jadi langganan-langganan itu sulit untuk membeli,” aku Sudahnan.

Ia menambahkan, semenjak tiga hari berdagang hewan kurban di kota ini, dirinya baru menjual 13 ekor sapi dari 40 ekor sapi yang diangkut langsung dari Sumenep. Sementara harga per ekor sapi di tempatnya dibanderol mulai dari Rp 14 juta hingga Rp 23 juta. Tergantung ukuran berat dan kesehatan hewan tersebut.

Meski begitu, Sudahnan tetap optimis sapi miliknya lebih banyak lagi terjual ketika mendekati hari H. Karena menurut sepengetahuannya, pembeli baru ramai ketika H-3 jelang Idul Adha.

“Tahun kemarin itu sampai 15 (ekor per hari), aku tahun kemarin habisin 65 ekor sapi,” lanjutnya.

Tak kalah tragis juga dialami pedagang kambing kurban asal Malang, Ahmad Yulianto. Ia menyebut, angka penjualan di tempatnya bahkan turun hingga 70 persen dibanding tahun 2020. Lagi-lagi, ia menyebut semua gara-gara wabah Covid-19 yang masih menghantui warga Kota Surabaya dan sekitarnya.

“Gara-gara Covid-19 ini lho, pembeli-pembeli itu pada takut datang (beli),” katanya.

Dari 150 ekor kambing yang diperdagangkan, pria yang mengaku lama tinggal di Kota Pahlawan ini mengatakan, baru menjual 25 ekor kambing sejak tiga hari lalu. Padahal tahun 2020, ia berhasil melepas 300 ekor kambing ke tangan pelanggan.

Tidak hanya angka penjualan yang anjlok, harga kambing dikatakan Yulianto juga ikut jatuh di masa pandemi tahun ini.

“Dulu itu (harga kambing) Rp 3 juta sampai Rp 7 juta. Sekarang Rp 2 juta pun tidak ada yang mau,” keluhnya.

Dengan kondisi tersebut, para pedagang hewan kurban pun mengaku pasrah karena bukan mereka saja yang merasakan hidup berat di masa pandemi Covid-19. Melainkan masyarakat lain juga tak sedikit keadaannya jauh lebih memprihatinkan.

“Kita nggak bisa ngapa-ngapain, pasrah wes,” pungkasnya. Ady

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here