Ekskavasi Situs Pataan Temukan Pintu Masuk Candi

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Lanjutan ekskavasi (penggalian) Situs Pataan di Desa Pataan Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan membuahkan hasil. Hasil kerja 16 tenaga penggali Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur serta dibantu 11 tenaga lokal menemukan pinta masuk dan pagar candi yang diduga peninggalan Kerajaan Airlangga.

“Kita sudah tahu titik masuk candi. Sudah diketahui, pagar sisi luar dari candi itu,” tutur Miftah Alamudin. Kasi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan kepada Kanalindonesia.com, Sabtu (27/10/2018).

Dia mengatakan, ekskavasi diperkirakan dilakukan dua hari lagi. Itu untuk menyesuaikan anggaran tahun ini. Sedangkan, sisanya akan dilanjutkan tahun depan. “Jadi memang tidak bisa tuntas tahun ini, ” ujar Udin, sapaan akrab Miftah Alamudin.

 

Wicaksono Dwi Nugroho, Arkeolog BPCB Jawa Timur menyatakan, pihaknya menemukan fakta-fakta baru setelah dilakukan ekskavasi. Temuan bangunan di luar perkiraan BPCB Jatim sebelumnya.

“Volume batu runtuhan, bentuk, dan luasan bangunan tersebut ternyata di luar perkiraan kita,” kata Wicaksono.

Dia juga menjelaskan, dari data sementara bangunan Situs Pataan memiliki panjang 24 meter, lebar 16 meter. Serta bangunan menunjukkan Wihara tidak simetris dan lebih panjang dan menghadap ke barat.

“Kita juga temukan runtuhan batu berbentuk bulat. Indikasi membentuk stupa Wihara arti lainnya juga candi (bangunan suci),” ucap Wicaksono.

Dia menambahkan,  bangunan tersebut menggunakan batu atau kumbung yang banyak ditemukan di daerah sekitar. Sedangkan, bangunan utama candi menggunakan batu putih dan kombinasi sedikit batu andesit.

 

Sedangkan lanjut dia, ada yang menarik pada. Yakni menggunakan kombinasi batu kulit, batu putih dan di dalamnya ada sisipan batu merah. “Yang panjangnya luar biasa, lebih panjang dibandingkan Zaman Majapahit, ” katanya

Di sekitar Situs Pataan terdapat pepohonan dengan akar yang menjalar ke luar. Disinggung terkait itu, Wicaksono mengaku perlu melakukan kajian terlebih dahulu. “Kita kaji dulu akarnya, ini seberapa besar yang masuk ke dalam struktur candi, nantinya baru kita bisa ketahui dampaknya,” pungkasnya.

Jurnalis:omdik/ferry/bisri

Editor : Arso