Galian C Melanggar Perda, Sairi Seret Nama Bupati

Aktivitas galian C di dusun Wareng desa Pemenang Timur, kecamatan Pemenang masih beroperasi.

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Kepala Bagian Pembangunan Setda Lombok Utara, Lalu Majemuk melakukan pemanggilan langsung pihak yang beraktivitas melakukan galian C di dusun Wareng, desa Pemenang Barat, kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Hal ini dilakukan untuk memastikan aktivitas penggalian tersebut sudah dihentikan.

Karena sudah jelas, dalam peraturan daerah (perda) Nomor 9 tahun 2011 tetang tata ruang wilayah (RT/RW) yang mengatur bahwa di kawasan pariwisata tidak boleh dilakukan aktivitas penambangan/penggalian seperti apapun. Sedangkan di kecamatan Pemenang itu sendiri masuk dalam kawasan pariwisata itu.

“Kita dari tim Pengendalian perda sudah turun untuk menanyakan ijinnya,” Ungkapnya,Via telepon Kamis (8/11/2018).

Ia menjelaskan, beberpa waktu lalu bersama tim pengendalian Perda sudah dua kali turun langsung untuk mengecek aktivitas galian tersebut. Diakuinya, dari hasil lapangannya diketahui bahwa galian ini tidak mengantongi izin penggalian.

Pengecekan pertama, timnya tidak langsung melakukan pemberhentian aktivitas galian tersebut. Karena harus menanyakan izinnya terlebih dahulu. Karena aktivitasnya masih berlangsung, timnya bersama Satuan PolPP turun lagi kali ke keduanya untuk menginstruksikan pelaku galian C ini mengurus izinya.

“Tim kembali turun untuk yang kedua kalinya, lengkap bersama sat Pol PP mengarahkan kepada pengusaha untuk mengurus kelengkapan dokumen izinnya,” jelasnya.

Bahkan, timnya juga meminta untuk memberhentikan aktivitas tersebut. Namun tidak pernah indahkan dan tetap melakukan galian sampai saat ini. Karena itu saat ini bersama tim pengendali perda mengundang pelaku galian ini, guna menanyakan langsung alasan tidak diberhentikan galian ini.

Diakuinya, dalam pertemuan itu bersama timnya telah memaparkan langsung tentang aturan tersebut. Sekaligus mencari solusi agar galian tersebut tidak melanggar peraturan daerah.

“Pengusaha kita arahkan tentang bagaimana penggalian yang benar menurut aturan daerah,”imbuhnya.

Lanjutnya, Pemda bukan melakukan pembiaran terhdap aktivitas galian yang memang melanggar perda tersebut. Buktinya sudah dua kali bersama timnya menyambangi untuk menanyakan izinnya, hingga saat ini dilakukan pemanggilan.

Diakuinya, aktivitas penggalian itu sudah jelas salah karena menyalahi perda, karena lokasinya merupakan kawasan pariwisata. Tapi penggalian itu dilakukan karena memang ketidaktahuannya saja.

Majemuk juga mengatakan, bahwa sudah jelas dalam perda menegaskan, apabila aktivitas dilakukan atas dasar komersial, itu jelas melanggar Perda. Namun jika penggalian itu dilakukan untuk bangunan sendiri seperti rumah, maka akan dilakukan pengkajian untuk mempertimbangkan dampak dari penggalian tersebut.

“Dan untuk soal kebutuhan itu sendiri, nanti akan ada instansi terkait yang mengkajinya seperti Lingkungan Hidup,” katanya.

Sebab itu, katanya, bersama tim dan instansi terkait juga pelaku penggalian C dipanggil untuk sama-sama mencari solusi dari persoalan ini.

“Kita belum libatkan Aparat Penegak Hukum (APH) dulu karena kita selesaikan diinternal dulu,”pungkasnya.

Terpisah, Sairi pengawas galian C ini mengaku, aktivitas galian C yang dilakukan saat ini tidak mengganggu masyarakat, karena sampai saat ini tidak ada yang pernah persoalkan itu. Sebab, katanya penggalian tersebut dilakukan di tanah sendiri untuk memenuhi kebutuhan penimbunan untuk membangun SPBU.

Diakuinya, kegiatannya ini sudah dibicarakan dengan bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar. Setelah selesai memenuhi kebutuhan timbunan untuk SPBU selesai, dirinya akan melakukan penataan kembali. Karena menurutnya dengan adanya SPBU itu, nanti akan bisa menyerap tenaga kerja masyarakat disekitar itu.

“Dengan adanya SPBU nantikan bisa menyerap tenaga karyawan juga, jadi tidak ada yang dirugikan,”katanya.

Sementara itu, warga yang tidak ingin disebutkan namanya, mengaku khawatir dengan aktivitas tersebut. Sebab menurutnya, aktivitas galian ini berpotensi longsor karena saat ini sudah memasuki musim hujan. Apalagi lokasi galiannya dekat dengan pengguna jalan.

“Mereka menggali bukit, sedangkan lokasinya dipinggir jalan raya. Apalagi sekarang musim hujan bisa longsor ,”tutupnya. (Idam)