Warga Terima RIBA Tak Mau Diganti RISHA

LEBIH SUKA RIBA: beberapa warga Dusun Boyotan tengah beraktivitas di depan Rumah Idaman Bambu (RIBA) buatan NGO Posko Jenggala, Selasa (13/11/2018).

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Pimpinan pusat Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala Andi Sahrandi atau biasa dipanggil “Babeh” ini melalui Koordinatir Wilayah Lombok Posko Jenggala, Thyas, mengaku sudah membangun sebanyak 130 unit rumah dari bambu (Riba) di dusun Boyotan, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa agar cepat kembali kerumah mengingat saat ini sudah memasuki musim hujan.

“Rencananya 160 unit cuman yang sudah terbangun sebanyak 130, sisa yang 30 sedang menyusul,” ungkapanya, Selasa (13/11/2018).

Ia menjelaskan, dari 130 yang terbangun diantaranya ada 2 barak yang sudah dibangun dengan ukuran yang cukup besar, yang bisa ditempati sebanyak 5 KK per 1 baraknya. Satu puskesmas darurat juga PAUD yang sedang dalam proses pembangunan.

Tidak hanya di dusun Boyotan saja, di beberapa dusun lain seperti dusun Lading-lading juga dibangunkan sebanyak 4 unit Riba dan Karang Swela 1 Barak dan itu masuk wilayah Tanjung.

“Begitu juga di Teluk Nara – pemenang sudah dibangunkan barak 1 dengan jumlah 2KK yang menghuninya,” jelasnya.

Ia mengatakan, dalam proses pembangunan Riba ini yang diutamakan adalah rasa gotong royong masyarakat. Sebab sistem yang digunakan NGO ini merupakan sistem kegotongroyongan.

Hal ini bertujuan untuk memepercepat proses pemulihan masyarakat. Karena katanya, dengan melibatkan masyarakat untuk proses pembangunan Riba ini, setidaknya bisa sekaligus melakukan trauma healing, dan mempercepat proses perekonomiannya biar jalan kembali.

“Karena program kita itu, jika masyarakatnya mau bergotong royong kami siap membantu secara pull, tidak setengah setengah,” tegasnya.

Diakuinya, dalam proses pembangunan Riba ini, Posko Jenggala berpacu dengan waktu, karena saat ini sudah memasuki musim hujan. Karena itu katanya masyarakat Boyotan harus bisa tinggal dirumah sebelum hujan.

Proses pembangunan ini juga, diakuinya tidak pernah dikoordinasikan sama pemerintah. Karena ia menilai jika melalui pemerintah malah akan memeperlambat proses pembangunannya, sebab harus melalui birokrasi yang terlalu panjang.

“Sebelumnya Kita Posko Jenggala juga membantu warga Gumantar dengan memberikan obat-obatan, terpal, selimut, sarung, genset,” Imbuhnya.

Dikatakanya, huntap yang dibangun awalnya berukuran 8×6 m. Namun setelah melihat luas pekarangan warga, di rata-ratakan menjadi 6×6 m. Dana yang dihabiskan untuk 1 bangunan tersebut berkisar Rp 17 sampai Rp 25 juta, tergantung jenis bangunan yang akan dibangun.

Tidak hanya itu, ia menegaskan, bahwa bangunan saat ini jangan di anggap pengganti Risha atau akan dirusak untuk membangun Risha. Karena biarkan masyarakat yang memilih haknya.

“Warga ini juga harus dapatkan haknya walaupun kami sudah membangunkan rumah,” terangnya.

Dilokasi yang sama, mantan Kades Gumantar, Mahir mengatakan,bahwa pihaknya bersama warga Boyotan akan menolak rumah Risha ini, karena ia menilai rumah yang ditempati saat ini sudah layak untuk ditempati.

Karena itu ia berharap, bantuan yang diberikan itu dalam bentuk uang. Sebab dengan rumah Riba yang dibuatkan oleh NGO ini sudah lebih dari cukup, tinggal dipoles saja.

“Jadi dengan uang 50 juta itu yang kita butuh agar bisa menambahkan apa yang menjadi kekurangannya,” jelasnya.

Namun jika memang bantuan uang itu tidak bisa dicairkan. Dirinya berharap adanya bantuan dari LSM Nasional di Jakarta, seperti ICW itu untuk ikut menyuarakan hak masyarakat.

“Karena yang memeberikan bantuan inikan orang dari ICW juga, yang sering di panggil Babeh itu,” harapnya.

Terpisah, ibu rumah tangga, Salman yang mendapat bantuan Riba ini juga setuju dengan keputusan mantan kepala desa tersebut, yakni menolak Risha. Karena Riba yang dibangunkan NGO saat ini terasa nyaman untuk ditempati.

Apalagi, saat ini sudah banyak warga yang sudah mulai membangun rumahnya menggunakan dana pinjaman. Karena itu bantuan yang 50 juta itu diharapkan bisa diterima dalam bentuk uang, agar bisa mengembalikan uang yang sudah dipinjamkan tersebut.

“Kami disini sudah sepakat untuk menolak Risha, karena kami ingin dalam bentuk uangnya,” pungkasnya.(Idam)