Kasus Kongsi Pasar Turi, Henry Gunawan Dituntut 3,5 Tahun Penjara 

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Henry Jocosity Gunawan dituntut 3,5 tahun penjara dalam kasus kongsi pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi.

“Menuntut Terdakwa Henry Jocosity Gunawan dengan hukuman pidana penjara selama 3 tahun dan 6 bulan,” ucap Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya Harwaedi saat membacakan tuntutan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (14/11/2018).

Sikap berbelit belit Henry selama persidangan dan tidak mengakui perbuatannya serta masih tersangkut kasus penipuan lainnya menjadi faktor pemberat dalam tuntutan jaksa.

Atas tuntutan tersebut, penasehat hukum Henry yakni Agus Dwi Warsono mengajukan pembelaan yang akan disampaikan pada dua pekan mendatang, yakni Rabu (28/11).

“Saya kasih kesempatan dua minggu dan itu yang terakhir,” kata ketua majelis hakim Anne Rusiana menjawab permohonan Agus Dwi Warsono sambil mengetukan palu sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa pidana Henry yang ketiga ini bermula saat Henry membutuhkan dana untuk pembangunan pasar turi dan meminta permodalan sebesar Rp 68 miliar kepada PT Graha Nandi Sampoerna (GNS) milik tiga pengusaha asal Surabaya yakni Shindo Sumidomo alias Heng Hok Soei alias Asoei, Teguh Kinarto dan Widjojono Nurhadi.

Saat meminta dana sokongan itu, Henry mengaku selaku pemilik PT GBP dan mengaku sebagai pemenang lelang pembangunan Pasar Turi dan berjanji akan memberikan saham di PT GBP dan keuntungan sebesar Rp 240 miliar pada PT GNS dari proyek tersebut.

Pada kenyataannya, janji itu tidak pernah direalisasi oleh terdakwa. Faktanya tidak pernah ada pengalihan saham PT GBP ke PT GNS serta tidak terealisasinya janji keuntungan berupa bilyet giro senilai Rp 120 miliar, begitu juga 57 unit bangunan gudang senilai Rp 120 miliar yang tidak pernah dibangun sampai sekarang.

Hal ini membuat para pemegang saham PT GNS tersebut akhirnya membawa kasus ini ke ranah hukum karena merasa dirugikan senilai Rp 240 miliar oleh terdakwa.

Sementara di kasus pidana yang pertama, Henry dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan jual beli tanah di Claket, Malang yang dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalempung.

Pada kasus itu Henry divonis hukuman 8 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun oleh Hakim PN Surabaya yang diketuai Unggul Warso Mukti. Tapi vonis itu justru diperberat oleh Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menjadi 2,5 tahun penjara saat jaksa Ali Prakoso melakukan upaya hukum  banding.

Sedangkan kasus pidana yang kedua adalah kasus penipuan terhadap 12 pedagang Pasar Turi atas pembelian stand dengan janji memperoleh sertifikat hak milik strata title. Faktanya, Pemkot Surabaya tidak pernah memberikan ijin strata title pada Pasar Turi.

Alhasil, lagi-lagi Henry kembali dinyatakan terbukti melakukan penipuan dan divonis 2,5 penjara oleh majelis hakim yang diketuai Hakim Rochmad.ria