Longsor Kembali Terjadi di Tepian Bengawan Solo Wilayah Lamongan

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Tanah longsor di tepian Bengawan Solo wilayah Lamongan terus terjadi. Setelah di Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng, kini terjadi di Desa/Kecamatan Laren. Dimana warga satu rumah terpaksa mengungsi, kemarin sore (13/11/2018).

Warga yang mengungsi tersebut bernama Aisyah (47). Dia terpaksa meninggalkan rumahnya yang berdiri di bantaran Bengawan Solo karena lantai rumahnya retak akibat tanah di tepi sungai terpanjang di Pulau Jawa itu mengalami longsor. Longsor sepanjang 50 meter dan lebar 15 meter dengan kedalaman 3 meter. Lokasinya tepat di belakang rumah warga tersebut.

“Kasusnya sama seperti beberapa minggu yang lalu, terjadi longsor karena adanya tanah lumpur sehingga tanah mudah bergerak,” kata Kasi Tanggap Darurat badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Muslimin.

Menurut dia, beberapa minggu yang lalu di bantaran tersebut sudah ada tanda-tanda adanya retakan. Sehingga masyarakat yang ada di sekitarnya diminta agar berhati-hati dan waspada akan terjadinya longsor. Ternyata perkiraan itu benar terjadi.

“Satu rumah sudah saya sarankan agar pindah ke tempat keluarganya. Sedangkan barang-barangnya sudah diambil untuk diamankan. Kondisi di dalam rumah, sudah ada retakan mulai depan rumah sampai belakang rumah,” ungkapnya.

Dia juga memperkirakan, tidak menutup kemungkinan saat intensitas hujan semakin tinggi nanti akan semakin banyak terjadi longsor. Sebab sebelumnya terjadi kemarau yang sangat panjang sehingga membuat tanah sangat kering. Ditambah beberapa tanah di bantaran Bengawan Solo di kedalaman sekitar 6 meter terdapat tanah lumpur. Warga di bantaran Bengawan Solo sudah dihimbau agar waspada.

“Sampai saat ini (kemarin, red) belum ada solusi terhadap kasus tanah longsor itu dari Balai Besar Bengawan Solo,” tandasnya.

Menurut dia, semua kejadian tanah longsor di tepian Bengawan Solo sudah dilaporkan ke Balai Besar Bengawan Solo. Namun, hingga kemarin (13/11/2018) belum mendapatkan jawaban dan solusi. “Padahal tanah di bantaran Bengawan Solo butuh perhatian,” pungkasnya.

Jurnalis : omdik/ferry

Editor : Arso