Misteri Gaib Desa Golan dan Mirah Haram Bersatu Kisah Percintaan yang Berujung Kutukan

Warga desa Golan, Kecamatan Sukorejo saat menjalankan ritual di makam Ki Ageng Honggolono

DESA Golan tidak hanya masyhur dengan Gethuknya saja, melainkan juga
menyimpan misteri  gaib yang masih berlaku hingga jaman modern.
Sejumlah pantangan haram dilakukan warga Golan dengan Mirah. Berbagai
peristiwa aneh pun sering kali terjadi yang dipercaya  imbas kutukan
Ki Ageng Honggolono, Palang (kepala desa) Golan setelah merasa
dipecundangi Ki Ageng Mirah sehingga mengakibatkan acara perkawinan
anaknya si Joko Lancur gagal mempersunting Putri Mirah Kencono Wungu.
Bagaimana ceritanya?

Catatan Iro Dihardjo Ponorogo

“WONG Golan lan Mirah turun-temurun ora oleh ngenekake mantu. Barang
utowo isen-isene ndunyo deso Golan Kang Awujud kayu, watu, banyu lan
sakpinunggalane ora biso digowo menyang deso Mirah.  Barang-barange
wong Golan lan deso Mirah ora biso awor dadi sidji. Wong Mirah ora
oleh nandur, nyimpen lan gawe panganan soko dele”.

Menurut Ugik Sugiyanto, tokoh Desa Golan, lima sabda ini keluar dari
mulut Ki Ageng Honggolono, Palang (Kepala Desa) Golan dihadapan
sisa-sisa orang Golan dan Mirah setelah menguburkan anaknya Joko
Lancur yang ternyata mati bunuh diri bersama Putri Mirah, Kencono
Wungu.

“Sing sopo wonge nglanggar aturan iki bakal ciloko,” begitu Ki
Ageng Honggolono kembali wanti-wanti kepada anak buahnya dan warga
Mirah saat itu.

Sumpah ini lah yang dipercaya membuat desa Golan dan Mirah hingga
sekarang tidak bersatu.

Lima pantangan ini pun haram dilakukan kedua warganya hingga jaman modern ini. Bahkan, sengaja ataupun tidak, warga yang melanggar larangan itu bakal kena musibah.

Sumpah serapah itu bermula, ketika putra Ki Honggolono Joko Lancur ingin mempersunting putri Ki Ageng Mirah yang bernama Kencono Wungu. Namun, lantaran tidak suka memiliki menantu Joko Lancur yang dikenal sebagai seorang pejudi dan penyambung ayam, maka Ki Ageng Mirah dengan segala siasatnya ingin menggagalkan dan menolaknya dengan cara halus. Yakni dirinya siap dan mengabulkan pinangan itu dengan dua syarat.

Berbagai prasyarat yang tak masuk akal pun diajukan Ki Ageng Mirah pada Ki Honggolono agar bisa memboyong Putri Kencono Wungu. Diantaranya syaratnya yakni membuat Bendungan sungai Golan dan Mirah yang airnya dialirkan ke sawah-sawah di desa Mirah. Kedua, serahan padi satu lumbung yang tidak tidak boleh diantar oleh siapapun atau
lumbung tersebut berjalan dengan sendirinya. “Karena khawatir bisa terwujud, maka untuk menggagalkan itu Ki Ageng Mirah meminta bantuan Ki Kluntung Wuluh,” ceritanya.

Saat itu, Ki Ageng Honggolono menyuruh murid-muridnya mengumpulkan
padi untuk mengisi lumbung sebagai serahan ke desa Mirah, namun tidak
pernah penuh karena dicuri Ki Kluntung Waluh, Genderuwo suruhan Ki
Ageng Mirah. Saking Jengkelnya Ki Ageng Honggolono lalu menyuruh
muridnya mengumpulkan damen (jerami) dan titen (kulit kedelai) agar
dimasukkan ke dalam lumbung, maka dengan sabda Ki Honggolono langsung
berubah menjadi padi dan kedelai. “Itu diketahui oleh Ki Kluntuhung
Wuluh, sejak itu ia tidak mau mencuri, karena isi lumbung itu adalah
palsu,” ceritanya.

Begitu juga dengan pembuatan bendungan yang selalu ambrol akibat
gangguan Ki Klunthung Wuluh hingga Ki Honggolono memanggil sahabat
karibnya Bajul Kowor pimpinan buaya untuk membuat bendungan. Maka
datanglah ribuan buaya yang saling berjajar dan saling tumpang tindih
untuk membendung sungai Golan dan dialirkan ke Desa Mirah. Ki
Klunthung Wuluh yang selalu ingin menggagalkan prasyarat itu akhirnya
tertangkap basah oleh Bajul Kowor dan terjadi peperangan yang
dimenangkan oleh Bajul Kowor. “Sejak itu Ki Klunthung Wuluh tunduk dan
takluk,” terangnya.

Singkat cerita, setelah prasyarat berhasil dipenuhi, Ki Ageng
Honggolono berangkat dibarengi iring-iringan penganten laki-laki dari
Golan menuju desa Mirah. Sebelum berangkat ia menyabda lumbung sebagai
serahan tadi untuk berjalan sendiri menuju desa Mirah. Namun, Ki Ageng
Mirah dengan mata batinnya mengetahui isi lumbung itu adalah palsu,
lalu ia bersabda dihadapan tamu dan muridnya. “Hai konco-konco kabeh
titenono ngisor witekno dhuwur. (lihatlah bawah dan tengoklah atas)”.
Maka dengan sabdanya isi lumbung itu semula kelihatan padi dan kedelai
berubah menjadi Damen dan Titen.

Ki Ageng Honggolono marah karena acara perkawinan anaknya harus
digagalkan. Maka terjadilah perang mulut antara guru dengan guru, dan
murid dengan murid serta akhirnya terjadi perang tanding dan perang
adu kesaktian. Selama berkecamuk perang itu, Joko Lancur dan Kencono
Wungu memutuskan untuk bunuh diri. Dan ketika perang tanding terjadi,
bendungan yang dibuat oleh bajul Kowor ambrol dan terjadilah bah. Maka
banyak mayat-mayat dan orang-orang Mirah hanyut begitupun Ki Ageng
Mirah. Usai menemukan putranya tewas bunuh diri dengan kekasihnya, Ki
Ageng Honggolono pun bersabda lima pantangan tersebut.

Sumpah Ki Ageng Honggolono itu pun masih bisa dirasakan imbasnya oleh
kedua warga desa Golan dan Mirah sampai sekarang ini. Seperti
diungkapkan Ugik Hariyanto tokoh desa Golan kepada Media Aspirasi
secara gamblang menceritakan peristiwa aneh yang sering terjadi akibat
melanggar wilalat Ki Ageng Honggolono.

Dirinya sering kali menemukan orang yang kebingungan hanya
berputar-putar mengelilingi desa Golan. Setelah ditanya ternyata orang
itu baru saja membeli kayu dari Mirah kemudian mau pulang kebetulan
lewat desa Golan. “Sering itu ada warga yang kebingungan disini. Kami
langsung tanggap pasti mereka membawa sesuatu dari Mirah, ternyata
benar. Ini lah salah satu wilalat Mbah Honggolono segala sesuatu atau
barang dari Golan tidak bisa dibawa ke Mirah atau sebaliknya,”
bebernya.

Pun, semua barang dari Golan dan dari Mirah tidak bisa disatukan.
“Kutukan’ ini bisa dilihat dari tidaK bisa bersatunya air sungai yang
bermuara di Bendungan di perbatasan Golan dengan Mirah.

“Air sungai Golan dan Mirah di Bendungan tidak bisa menyatu. Dulu bisa dilihat
sekarang tertutup cor-coran beton,” ungkapnya.

Orang Golan dan Mirah dimanapun berada tidak bisa bersatu. Walaupun
itu berada di luar wilayah ini. Lantaran dipercaya pasti akan timbul
masalah.

“Sering itu waktu hajatan mantenan, tuan rumah dibuat bingung
karena nasi yang dimasak tidak matang-matang meski sudah berjam-jam.
Warga yang paham langsung mencari-cari apakah ada warga Golan dan
Mirah yang ada di hajatan itu. Ternyata benar, keduanya sama-sama
hadir, maka salah satu disuruh pulang atau pulang semuanya. Percaya
atau tidak seketika nasi bisa matang,” jlentrehnya.

Disamping itu, tanah dari Mirah atau Golan yang disatukan di sebuah
rumah dipercaya bakal membuat prahara putusnya rumah tangga. “Tanah
keduanya tidak boleh disatukan. Nanti bisa jengkar, rumah tangga bisa
hancur bercerai berai,” tandasnya.

Pantangan ini pun juga dipercaya dan dirasakan warga Mirah, Desa

Nambangan, Kecamatan Sukorejo. Dimana, warga desa ini haram hukumnya
menanam, menyimpan maupun membuat makanan dari kedelai. Tidak ada
warga yang berani menyimpan apalagi menanam. Mereka hanya bisa membeli
tempe yang dijual pedagang.

Salinah (37) salah satu warga mengaku dirinya sempat sakit-sakitan

selama berbulan-bulan. Upaya ke dokter berulang kali dia lakukan namun
tidak kunjung sembuh. Barulah ia tersadar bahwa selama ini menyimpan
kedelai dalam rumahnya. “Saya kan nikah dengan warga Mirah jadi belum
terbiasa dengan adanya larangan orang mirah dilarang menanam,
menyimpan ataupun membuat makanan dari kedelai. Ketika sadar saya
langsung menjualnya, setelah itu saya alhamdulillah sembuh,”
pungkasnya. (***)