Misteri Gaib Desa Golan, Perjudian Bebas, Takut Kutukan Mbah Aseng

PETILASAN Inilah makam Mbah Aseng yang terawat dengan baik
di pinggir jalan Dukuh Golan, Desa Golan, Sukorejo

“He…kompeni Londo lan anthek-antheke, senajan aku mati lan mung wewujud kuburan nanging titenono, yen nganti liwat sak cedhake kuburku bakal tak ganggu. (Hai orang-orang Belanda, meskipun aku harus mati dan wujudku hanya dalam bentuk kuburan maka barang siapa (orang Belanda) yang lewat di sekitar kuburku pasti akan aku ganggu),”.

Catatan Iro Dhihardjo

SABDA ini lah yang diucapkan Mbah Aseng, sosok pejuang rakyat yang geram dengan penjajah, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir usai diberondong peluru senapan pasukan Belanda tepatnya tahun 1755 silam. Mendengar kata kutukan itu, pasukan Belanda yang dipimpin Mayor De Klerk memerintahkan anak buahnya agar mengubur mayat Mbah Aseng jauh dari jalan raya tujuannya agar tidak mengganggu kompeni dan pegawai belanda. Maka mayat itu dikubur di tengah hutan Bongkaran Desa
Golan. Namun ajaibnya, lama kelamaan kuburan tersebut berada dipinggir jalan, bahkan saat ini kuburan Mas Bang Sri alias Mbah Aseng ini sangat terawat persis di tepi jalan dukuh Golan RT 09 desa Golan, kecamatan Sukorejo.

Sejak peristiwa itulah pada masa pemerintahan Belanda, para pegawai dan pasukannya tidak berani lewat di dekat kuburan itu lantaran takut dengan wilalat atau sabda Mbah Aseng. Pun, kutukan itu kabarnya masih berlaku hingga sekarang. Semua aparat yang mempunyai senapan termasuk polisi bakal mendapatkan gangguan bila mengusik desa Golan.

“Wilalat Mbah Aseng itu ditujukan kepada pasukan Belanda yang punya senapan
atau bedhil, itu berlaku pula pada polisi yang juga punya pistol. Makanya polisi jaman sekarang pun takut bisa kena kutukan itu,” ungkap Ugik Sugianto, tokoh Desa Golan.

Kutukan Mbah Aseng ini pun menyimpan misteri aneh hingga sekarang. Konon, ada misteri yakni siapa yang berani merazia judi di Desa Golan bakal tidak selamat atau bakal dipecat dari jabatan atau satuannya. Berdasarkan data di lapangan menyebutkan, selama ini Desa Golan terkenal sebagai kampung judi. Pasalnya, tidak ada petugas yang berani merazia berbagai bentuk perjudian di desa itu. Bahkan, polisi yang menggerebek perjudian di desa yang dikenal dengan gethuknya ini bakal kena musibah yang tiada putusnya. Kondisi inilah yang membuat perjudian di kampung ini, semakin menguat dan bebas.

Apalagi, di makam Mbah Aseng ini sering dilakukan ritual sesaji untuk melindungi berbagai bentuk perjudian itu. “Sudah ada faktanya, sejumlah polisi yang sempat menggerebek perjudian disini hidupnya tidak tenang. Ada yang sakit-sakitan belum sembuh sampai sekarang, ada yang kena mutasi penurunan pangkat dan lain-lain,” sebutnya.

Ugik yang juga putra mantan kepala Desa Golan Surono ini, sempat diajak oleh polisi yang pernah menggerebek perjudian di Golan untuk minta maaf di kuburan Mbah Aseng.

“Pernah itu ada polisi yang mengajak saya untuk asok kaluputan. Sejak menangani judi di Golan, polisi itu merasa ada seekor macan yang selau mengikutinya, dirinya juga
sakit-sakitan,” ceritanya.

Dengan misteri gaib ini nyaris tidak ada razia perjudian di Golan. Bahkan, hampir enam tahun terakhir daerah ini aman dari sisiran aparat. Namun, sejumlah petugas Satuan Reskrim Polres Ponorogo, akhirnya menggerebeg lokasi perjudian di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo beberapa waktu yang lalu. Hasilnya, polisi berhasil mengamankan 9 penjudi dadu kopyok dengan uang barang bukti (BB) sebesar Rp 94,32 juta. Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah peralatan judi lainnya.

Berita itu pun heboh di seantero Ponorogo lantaran keberanian pihak kepolisian melawan perjudian serta melawan misteri gaib di wilayah Golan. “Warga sempat kaget, kok berani ya polisi menggerebek perjudian disini. Kami warga hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa,” harapnya.

Diceritakannya, Mbah Aseng sendiri dilahirkan pada tahun 1700 di Desa Pesantren Tembayat Surakarta yang berguru tentang ajaran islam kepada Pangeran Wijil III (Kyai Ageng Tembayat). Mbah Aseng yang  kecilnya bernama Mas Bang Sari ini sebenarnya abdi kinasih selalu dekat dengan Sinuwun Pakubuwono II Raja Mataram di Karta Sura. “Namun, ia tidak suka dengan tindakan raja dalam pemerintahan selalu berdampingan dengan Mayor De Klerk, Wakil Kompeni Belanda,” terangnya.

Panggilan Mbah Aseng itu sendiri diberikan ketika dia menjadi panglima perang  bersama Pangeran Mas Garendi dan mengajak orang-orang cina untuk bersatu melawan penjajah. “Orang-orang cina memberi nama gelar kepada pangeran Bang Sari yaitu Wang Seng, maka orang-orang sering memanggil dengan sebutan wang seng sari,” jelasnya. Singkat cerita, perjuangan Mbah Aseng kala itu sempat gagal dan kalah. Dalam pelariannya ia menjadi petani biasa, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ki Aseng atau Mbah Aseng.

Keserakahan dan tindakan kompeni belanda membuat Mbah Aseng makin geram. Perjuangannya pun beralih dengan cara sembunyi-sembunyi. Kala itu ia menyergap dan menculik tentara Belanda beserta anthek-antheknya terus sembunyi. “Namun, sistem ini dimanfaatkan para penjahat yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan perampokan, pembantaian dan lainnya,” jlentrehnya.

Taktik ini pun akhirnya diketahui oleh Kompeni Belanda dan langsung meminta bantuan ke Sultan Pakubuwono II. Maka Sultan akhirnya bekerjasama dengan Mayor De Klerk untuk memerintahkan pasukannya menangkap Wang Seng Sari. “Dengan seribu pasukan serdadu Belanda Hitam, Mayor De Klerk segera mengepung tempat persembunyiannya dan berhasil menembak mati Mbah Aseng sebelumnya akhirnya keluar sumpah atau kutukan itu,” pungkasnya.(iro)