Mega Proyek Gamapala Telan Anggaran 51 M, Terancam Molor

Resep Membuat Es Cincau

KANALINDONESIA.COM : DPRD Kota Mojokerto menilai Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mojokerto lamban dalam menjalankan perencanaan mega proyek trotoar dan saluran air di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Pahlawan (Gamapala).

Anggota Komisi II DPRD Kota Mojokerto, Edwin Endra Pradja menuturkan, bahwa proyek senilai Rp 51 miliar itu akan molor dan tidak selesai pengerjaannya akhir tahun nanti. Hal ini dikarenakan pelaksanaan pembangunan yang seharusnya dimulai pertengahan Juli lalu, molor sehingga baru sepekan lalu dikerjakan. Karena, waktu yang tersisa untuk merampungkan pembangunan trotoar dan saluran air pada kedua sisi jalan itu kurang dari 80 hari.

“Tanda tanya besar apakah bisa selesai, wong ini dikerjakan manusia biasa. Ini pekerjaan besar, sekarang baru mengerjakan, ya pesimis akan selesai,” ungkapnya.(18/10/2016)

Baca:  Tiga Jam Jenazah Diotopsi, Tiga Anak Meninggal Dunia Karena Kehabisan Nafas

Masih menurut Edwin, sementara kondisi di lapangan saat ini, PT Ardi Tekindo Perkasa sebagai pemenang lelang proyek trotoar dan saluran di Jalan Pahlawan belum juga merampungkan penebangan pohon. Apalagi proyek senilai Rp 27,44 miliar itu bakal menyertakan keramik khusus tuna netra pada bagian trotoar. Bahkan di Jalan Gajah Mada belum nampak adanya aktivitas pekerjaan. Proyek saluran dan trotoar senilai Rp 23,55 miliar itu dimenangkan PT Gunadharma Anugerahjaya.

“Namun. Kalau tiga shift 24 jam kerja terus bisa selesai. Kalau normal tak akan selesai. Karena kondisi pengerjaan normal untuk proyek biasa minimal 3 bulan, namun ini kan proyek besar,” tegasnya.

Molornya proyek Gamapala akibat adanya pembatalan pemenang lelang. Dinas PU Kota Mojokerto menganulir pemenang lelang sebelumnya dengan alasan adanya ketidaksesuaian antara dokumen penawaran dari rekanan dengan dokumen lelang. Khususnya dokumen pendukung terkait pengadaan keramik khusus tuna netra yang wajib dari pabrikan.

Baca:  Wong Bodho Sediakan 1000 Porsi Buka Puasa Gratis, Sebulan Penuh

Lanjut Edwin, meski waktu kian mepet, Dinas PU nekat melakaukan lelang ulang. Baru akhir September proses lelang dinyatakan selesai. Pengerjaan proyek pun baru bisa dijalankan awal Oktober. Itu lah yang membuat pelaksanaan mega proyek Gamapala molor. Atas langkah Dinas PU yang terkesan memaksakan proyek Gamapala, mereka harus siap bertanggung jawab jika pekerjaan tak rampung akhir Desember. Pemerintah diminta tegas memberikan sanksi kepada kontraktor.

“Kalau tak selesai otomatis ada denda harus dibayar pemilik proyek (rekanan), harus diblakclist. Karena kita rugi waktu, rugi dalam hal anggaran yang bisa dimaksimalkan untuk kepentingan warga kota akan tertunda, tak bisa dinikmati masyarakat langsung,” pungkasnya.(elo)