Jaksa Ajukan Replik Untuk Buktikan Tudingan Henry Gunawan 

Terdakwa Henry Gunawan saat membacakan pembelaan di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (28/11/2018).

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Pembelaan terdakwa kasus tipu gelap kongsi Pasar Turi Henry J Gunawan dinilai tidak sesuai dengan fakta. Pasalnya, pembelaan bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) yang menyebut kasusnya telah direkayasa oleh pelapor dan jaksa dengan menggunakan bukti palsu pada notulen kesepakatan tanggal 13 September 2013, harus dibuktikan.

Hal itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Harwiadi usai persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (28/11/2018).

“Logikanya, notulen kesepakatan tahun 2013 itu aslinya dibawa dia (Henry) dan isinya harus di aktakan dulu. Kenapa waktu itu kok kasih sejumlah BG ke pelapor. Berarti siapa yang memalsu, menipu dan merekayasa,” kata Jaksa Harwiadi.

Karena itu pihaknya tidak akan tinggal diam. Pihaknya akan melakukan perlawanan dalam bentuk replik pada Rabu (5/12/2018) mendatang. “Kami akan ajukan replik,” ujar Jaksa Harwiadi.

Kasus kongsi pembangunan Pasar Turi ini bermula saat Henry Gunawan membutuhkan dana untuk pembangunan Pasar Turi dan meminta permodalan sebesar Rp 68 miliar kepada PT Graha Nandi Sampoerna (GNS) milik tiga pengusaha asal Surabaya yakni Shindo Sumidomo alias Heng Hok Soei alias Asoei, Teguh Kinarto dan Widjojono Nurhadi.

Saat itu Henry mengaku selaku pemilik PT GBP dan sebagai pemenang lelang pembangunan Pasar Turi. Dari modal itu, Henry berjanji akan memberikan saham PT GBP dan keuntungan sebesar Rp 240 miliar pada PT GNS. Namun janji itu tidak pernah direalisasi oleh terdakwa. Faktanya, tidak pernah ada pengalihan saham PT GBP ke PT GNS.

Masalah berikutnya, tidak terealisasinya janji keuntungan berupa bilyet giro senilai Rp 120 miliar yang akan diberikan terdakwa. Selain itu, terdakwa juga menjanjikan akan membangun 57 unit gudang senilai Rp 120 miliar. Tapi sampai sekarang belum terwujud.

Di sini para pemegang saham PT GNS akhirnya membawa kasus ini ke ranah hukum karena merasa dirugikan senilai Rp 240 miliar oleh terdakwa.

Sementara jaksa sendiri mendakwa Henry Gunawan melanggar pasal 378 dan 372 mengenai penipuan dan penggelapan. Terdakwa lantas dituntut pidana penjara selama 3 tahun dan 6 bulan.ria