UNESA Serahkan Mesin Pengering Ampas Tahu Untuk UKM Tahu Desa Tawangsari

SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM: Desa Tawangsari di Kecamatan Taman merupakan komplek UKM (Usaha Kecil Menengah) produksi tahu. Dalam produksinya menghasilkan efek samping ampas tahu.

“Ampas tahu basah ini jika berlebih dan tidak segera dimanfaatkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan bau. Ampas Tahu basah yang masih baru dan segar sering dibeli masyarakat sekitar oleh para peternak dan pembuat tempe gembus (menjes),” tegas Bellina Yunitasari selaku ketua tim pelaksana kegiatan. Jumat, (30/11).

Lanjut Bellina, karena ampas tahu basah hanya memiliki daya simpan 1 hari (di udara luar) atau 2-3 hari (dalam lemari pendingin) menyebabkan para peternak harus segera memberikan ampas tahu basah langsung ke ternaknya

“Dan pengrajin tempe menjes juga harus segera melakukan produksi, jika tidak ampas tahu basah akan mengandung amonia (merupakan gas beracun) dan berbau busuk,” pungkas dia.

LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UNESA memiliki tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan pemanfaatan ampas tahu. “Untuk meningkatkan ketahanan daya simpan dan warna dari hasil pengeringan yang lebih menyerupai warna asli,” tuturnya.

“Oleh karena itu, melalui program diseminasi produk teknologi ke masyarakat ini diharapkan menjadi salah satu solusi atas kendala yang dihadapi oleh UKM Tahu,” tambah Bellina.

Program ini merupakan kerjasama antara Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), Kemeristekdikti melakukan hilirisasi produk teknologi ke masyarakat.

Masih dengan Bellina, dirinya menceritakan bahwa, produk teknologi yang diserahkan ke masyarakat pemilik UKM tahu berupa mesin pengering teknologi rotary untuk membuat bahan tepung makanan dan pakan ternak.

Bellina Yunitasari yang selaku ketua tim melakukan penyerahan didampingi oleh anggota tim Tri Hartutuk Ningsih, dan Nur Aini Susanti.

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan nilai ekonomi limbah ampas tahu menggunakan mesin pengering teknologi rotary untuk membuat bahan tepung makanan dan pakan ternak,” ikbugnya

Ampas tahu basah dijual dengan harga murah dan hanya dimanfaatkan untuk menjes dan pakan ternak secara langsung.

Masyarakat desa Tawangsari belum mengerti lebih banyak manfaat dari ampas tahu yang telah dikeringkan yaitu untuk membuat krupuk, bahan roti, selai, perkedel serta ampas tahu kering juga bisa diproses untuk membuat pakan ternak berupa pellet ikan, ungas, kelinci dan sapi.

Mesin pengering teknologi rotary merupakan hasil karya mahasiswa jurusan Teknik Mesin UNESA yang dirancang semaksimal mungkin. “Dengan konsep sederhana, sehingga proses pengerjaannya sangat mudah dan hasil pengeringan ampas sesuai dengan apa yang diharapkan,” tandasnya.

Ampas tahu basah dikeringkan dengan cepat dan warna yang dihasilkan tetap putih (seperti pada awalnya). “Sehingga mesin ini mudah dijangkau, mudah dipindah-pindahkan, mudah dikuasai dan dikembangkan oleh UKM tahu skala rumah tangga maupun skala kecil diwilayah pedesaan,” tutup Bellina.

Pada kegiatan sosialisasi, Adi Sucipto selaku Kepala Desa Tawangsari mengungkapkan, alat ini akan membantu memperdayakan masyarakat mengembangkan peternakan dan usaha kue dengan bahan dasar ampas tahu kering.

Dalam kegiatan ini, tim pelaksana kegiatan juga melakukan sosialisasi penggunaan alat dan penyuluhan peningkatan nilai ekonomi ampas tahu di desa Tawangsari yang didampingi oleh kepala desa, perangkat desa, perwakilan BPD (Badan Permusyawaratan Desa), KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) desa Tawangsari Kecamatan Taman.

Acara sosialisasi ini dihadiri oleh masyarakat desa yang rata-rata pemilik UKM tahu, peternak dan perwakilan pengurus PKK yang mengembangkan usahan kue.

Dari hasil diskusi dan masukan diketahui bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan teknologi pengering ampas tahu. Beberapa masyarakat juga menyampaikan kebutuhannya untuk mengatasi masalah sampah dan pembuatan pakan ternak. Oleh karena itu kepala desa Tawangsari dan perangkatnya. (ari)