Siswa SD di Trenggalek Terjatuh dari Lantai Dua Bangunan Sekolah

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Nahas dialami, ASR,(11), murid SDN 1 Ngantru Kecamatan/Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang terjatuh dari plafon sekolahnya setinggi empat meter saat mengambil bola mainannya. Akibatnya siswa kelas 4 ini harus dirawat intensif di RSUD dr Sudomo Trenggalek guna mendapatkan pertolongan jiwanya.

Yulianto,(32), ayah kandung ASR mengatakan jika dirinya mengetahui khabar nasib anaknya setelah dihubungi melalui telepon. Sadar anaknya celaka, pria yang kesehariannya berdagang parfum ini langsung menghampiri RS.

“Tahu kalau anak saya celaka saya dating ke RS ini,”ungkapnya, Jum’at, (11/1) di Trenggalek.

Yulianto menjelaskan, saat itu anaknya sedang bermain bola seperti biasa dengan teman sekolahnya di area halaman. Namun tiba-tiba bolanya tertendang keras mengarah ke atas hingga masuk ke lobang plafon sekolah yang masih tahap renovasi.

“Bolanya menjulang hingga masuk lobang plafon samping bantaran lantai dua sekolah yang masih belum selesei pembangunannya,”jelasnya.

Tetapi, masih lanjut Yulianto, dikarenakan antara plafon atap sekolah dan bantaran lantai dua tidak ada pagar pengamannya, tanpa disadari ASR menginjak plafon tersebut hingga terperosok dan jatuh.

“ Dia langsung jatuh dari plafon setinggi 4 meter dari tanah hingga mengalami beberapa luka,”lanjutnya.

Dikatakannya, sebenarnya pihaknya telah mewanti-wanti pihak sekolah agar membuat pagar pengaman antara batas bangunan lantai dua dengan bangunan lama. Namun sampai sekarang bangunan yang menurut informasi dari anggaran swakelola sekolah berasal bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut tidak pernah terwujud.

“Sudah kita usulkan pagar, tapi sampai sekarang tidak pernah ada pagar itu,”katanya.

Sementara pihak RSUD dr Sudomo juga enggan dikonfirmasi penanganan medis terhadap korban ASR. Bahkan pihak RS sempat membentak wartawan untuk tidak meliput dan mengambil gambar korban.

Sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan , Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Trenggalek menegaskan kejadian yang dikategorikan kelalaian tersebut murni kesalahan pihak sekolah.

“Kita dinas tidak salah, yang salah ya sekolah itu,” tandasnya.

Sampai sekarang belum diketahui tindakan dinas maupun sekolah itu seolah masalah itu diabaikan begitu saja. (dik/ham)

WELAS ARSO